Rabu, 28 Maret 2012

ISTRIKU DAN MANTAN PACARNYA

Saya seorang suami, 42 tahu, sudah 12 tahun menikah dengan 4 orang anak. Sejak awal pernikahan, ada satu masalah dengan istri yang tak pernah terselesaikan, yang sekarang bahkan lebih parah bahkan tak termaafkan. 

Sejak awal pernikahan dia sering kontak dengan mantan pacarnya dengan berbagai alasan. Dia beralasan harus menjaga silaturahmi, karena hubungannya terlanjur baik. Apalagi teman-teman dan adiknya juga masih tetap akrab dengan mantannya itu. 

Saya sudah berkali-kali menunjukkan keberatan saya pada hubungannya itu. Seketika dia tidak  kontak, tetapi di lain waktu dia kembali kontak dengan berbagai alasan. Katanya tidak sengaja bertemu, sekedar mengucapkan ulang tahun, selamat hari raya, atau sekedar ingin tahu kabar. 

Saya pernah berniat meninggalkannya sejak awal pernikahan, tetapi karena tak tega melihatnya bersedih, dan harus menjaga perasaan orang tua, saya bertahan sampai saat ini. Keputusan itulah yang paling saya sesali seumur hidup.

Beberapa waktu lalu saya curiga dia kembali kontak dengan mantannya itu. Dia sangat protektif dengan HP-nya, dan sering buru-buru menghapus SMS bila ketemu saya. Iseng-iseng sayapun menyadap HP-nya. Ternyata benar. 

Rupanya kecurigaan saya benar. Beberapa bulan terakhir dia secara sembunyi-sembunyi sering kontak dengan mantannya itu, bahkan jauh lebih intensif. Kalau saya sedang tidak di rumah, dia sering telepon berlama-lama dengan lelaki itu, kadang bertukar SMS sambung-menyambung.

Rupanya selama ini dia hanya baik di depan saya, sedang di belakang saya dia sebenarnya tak bisa dipercaya. Beberapa waktu saya biarkan saja, bahkan saat mereka janjian bertemu di rumah mertua. Saya ingin tahu apa yang akan dia lakukan. Saya ingin tahu bagaimana sebenarnya perasaan istriku pada mantan pacarnya.  

Saya sangat kecewa ternyata istri saya masih begitu menyukai laki-laki itu. Hati saya sakit sekali setiap kali menyaksikan dia begitu nyaman berbicara, bercanda, berbagi cerita. Istriku kelihatan begitu "ngebet" pada lelaki itu, sehingga hampir selalu memulai kontak. Dia seperti penasaran, begitu terbawa dan ingin terus terhubung dengan lelaki itu. 

Hubungan mereka memang belum sampai taraf hubungan fisik, tetapi hati saya benar-benar hancur mendengar sikap istri saya yang begitu terbuai setiap kali digoda dan dirayu oleh mantannya. Beberapa bulan saya bersikap seolah tidak tahu, tetapi saya sering tidak tahan  menyembunyikan kekecewaan saya. Sering kali saya kelepasan bersikap dan berbicara yang menyakiti perasaannya, tetapi dia seperti tidak sadar. 

Karena sudah tak tahan lagi, suatu hari saya berterus-terang pada istri. Saya bilang, saya sangat kecewa dengan yang dia lakukan. Saya sangat menyesal telah menikahi seseorang yang ternyata masih begitu perhatian pada orang lain. Saya tidak percaya lagi padanya. Saya tak bisa menerima kenyataan ini, dan ingin berpisah. 

Seketika dia menangis seolah menyesali perbuatannya, tetapi di lain waktu dia berulang kali menegaskan kalau sebenarnya dia tidak bersalah. Dia bilang hanya berteman, tidak ada yang istimewa dan tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Dia mengakui suka selinthutan, mencuri-curi kesempatan kontak dengan mantannya, tetapi tidak lantas terima yang dia lakukan dianggap salah, karena selama ini dia tak pernah curhat pada mantannya. Dia menganggap selama ini hanya membicarakan masalah-masalah umum dan tak ada yang pantas dipersoalkan. Intinya, dia ingin menegaskan apa yang dia lakukan tidak perlu dianggap sebagai masalah.

Dia semakin mengada-ada untuk membenarkan sikapnya. Dia bilang ingin mengajak saya untuk mengenal lebih dekat  mantannya supaya tidak salah paham. Sebagai imbalannya, dia bilang ingin aku memperkenalkan dia dengan mantanku.

Dia seperti berusaha memutar-balikkan persoalan itu seolah hanya kesalahpahaman.  Godaan dan rayuan lelaki itu seolah belum cukup untuk membuktikan kalau istriku masih saling suka pada mantan kekasihnya dan menikmati kontak bersamanya. 

Istriku menempatkan lelaki itu begitu sempurna di matanya. Istriku selalu memaklumi apapun yang dilakukan lelaki itu. Intinya, istriku sepertinya tetap bersikukuh ingin terus berhubungan dengan lelaki itu meski dengan dalih berteman. Dengan cara apapun dia berusaha membenarkan sikap, tindakan dan keinginannya. Dia bahkan mengajak saya ke psikiater untuk menunjukkan mana yang benar.

Saya benar-benar tidak bisa menerima kenyataan ini. Saya kecewa sangat dalam kepadanya. Saya merasa tak sanggup lagi bersamanya. Saya ingin berpisah darinya, bercerai. Aku sama sekali tak tahan untuk terus bersamanya.  Hubungan ini sudah sama sekali tak berarti.

Satu-satunya yang membebani pikiranku hanyalah anak-anak. Apa jadinya mereka bila rumah tangga ini berakhir. Rasanya tidak adil bila mereka yang tidak tahu apa-apa harus turut menanggung akibat semua ini.

Saya benar-benar dalam dilema yang teramat berat. Satu sisi, saya benar-benar tidak bisa lagi menerima istri saya, tetapi di sisi lain saya tak bisa membiarkan anak-anak saya menderita. Saya tidak tahu yang harus saya lakukan.

Saat ini kami hanya saling menahan diri. Dia sama sekali tak mau membicarakan masalah ini lagi. Dia bahkan menganggap aku tak bisa memahami penjelasannya. Aku hanya menelan kekecewaan, dan sedang berfikir keras untuk bisa lepas darinya.


Dharma, Surabaya

Selasa, 20 Maret 2012

KEBAHAGIAAN

Tanpa sengaja saya pernah membaca sebuah artikel yang menjengkelkan di internet. Menurut survey sang penulis, 1 dari 3 orang dewasa tidak bahagia hidupnya. Perbandingan tersebut berlaku tanpa membedakan tua-muda, kaya-miskin, elit-rendahan, ataupun berpangkat dan tidak.
Boleh saja kita tidak percaya pada artikel itu, tapi mungkin kita perlu bertanya secara jujur pada diri sendiri, “apakah kita bahagia dengan hidup kita? Kalau jawaban kita “ya”, kita perlu perjelas, “apakah kebahagiaan itu?”. Ini perlu kita lakukan, karena jangan-jangan kita, secara sadar atau tidak, sebenarnya termasuk orang yang mengaku bahagia, padahal tidak.  
Apakah kebahagiaan itu?
Sejak manusia ada di muka bumi, kebahagiaan merupakan sesuatu yang paling dicari dalam hidupnya. Apapun yang dilakukan manusia dalam hidupnya pasti tidak lepas dari keinginan untuk mendapatkan kebahagiaan, dan menghindar dari kesengsaraan, kebalikan kebahagiaan.
Tentu saja, ada manusia yang mampu meraih kebahagiaan, ada yang hanya mendapatkan kebahagiaan semu, dan ada pula yang seumur hidup merasa tidak pernah menemukannya.
Untuk mengetahui apakah kita bahagia atau tidak, pertama-tama kita mesti memahami apa dan bagaimana kebahagiaan itu. Bahkan masalah mendasar yang menyebabkan banyak orang tidak bahagia adalah karena mereka tidak tahu apa dan bagaimana kebahagiaan itu?
Kebahagiaan dipahami berbeda oleh kebanyakan orang. Kebanyakan orang menyamakan antara kebahagiaan dan kesenangan, padahal keduanya berbeda meski terkesan sama. Ketidaktahuan ini rupanya turut menyumbangkan kegagalan dalam meraih kebahagiaan.
Kebahagiaan kadang berarti memang kesenangan, tetapi tidak semua kesenangan berarti kebahagiaan. Mencari kebahagiaan dapat diibaratkan dengan bepergian menuju kebun binatang di Surabaya, sedangkan kesenangan adalah naik kendaraan. Bila seseorang menganggap naik kendaraan sebagai tujuan,  maka sangat boleh jadi dia tidak pernah sampai pada tujuan sebenarnya.
Keduanya sama-sama keadaan batin (psikis) tetapi memiliki dimensi berbeda. Kesenangan(ladzdzah), keenakan dan kemudahan hidup sering bersifat sementara, sedangkan kebahagiaan bersifat jangka panjang dan terus-menerus (langgeng). Kebahagiaan bersifat mental (psikis). Meski juga bersifat psikis, kesenangan bersifat seringkali terkait dengan kebendaan.
Banyak orang yang hanya berhasil memperoleh kesenangan, tetapi tidak mencapai kebahagiaan. Sebagai misal, menikah dengan suami atau istri idaman adalah kesenangan, tetapi belum berarti kebahagiaan. Kesenangan tersebut akan berlanjut dengan kebahagiaan bilamana kita merasakan suami/istri kita orang yang sabar, pengertian, penuh perhatian, penuh kasih sayang, kita merasa tenang dan damai, mampu hidup secara teratur, bergairah, dan membuat kita nyaman dan betah bersamanya.  
Sebaliknya, kesenangan tersebut dapat berakhir ketidakbahagiaan bilamana sesudah menikah kita mendapati suami/istri kita ternyata orang yang egois, tidak pengertian, tidak perhatian, atau sikapnya sering menyebalkan di mata kita. Kesenangan yang kita dapat justru membuat kita merasa tertekan, gelisah, mudah marah (impulsif), mudah konflik, dan membuat kita ingin keluar dari keadaan itu.   
Orang-orang Sufi (mutashowwifin) mkebahagiaan dengan surga (jannah), yang berarti tempat bagi orang-orang bahagia. Kebahagiaan adalah bila kita mampu membebaskan hati dan perasaan kita dari keterikatan pada materi. Dalam al-Qur’an kebahagiaan digambarkan dengan keadaan jiwa yang muthma’innah (damai). Jiwa yang bahagia akan mudah kembali ke jalan Allah dengan penuh ketulusan. 
Menurut Mario Teguh, kebahagiaan adalah kegembiraan dalam kedamaian yang penuh syukur. Bahagia teraih bilamana kita merasa menikmati hidup kita dalam suasana hati yang tenang, dan penuh rasa syukur atas segala pemberian Allah.
Secara psikis, orang bahagia pada umumnya:
·         Memiliki suasana hati yang gembira, tenang atau damai,
·         Mampu menjalani hidup yang teratur,
·         Merasa hidup (bergairah), dan
·         Betah menjalani kehidupan yang dimiliki.
Sebaliknya, kita termasuk orang yang sedang tidak bahagia manakala kita jiwa kita diliputi perasaan tertekan (ngempet), gelisah (kemrungsung), tidak puas, dan lemah gairah. Dalam tingkatan tertentu orang tidak bahagia ditandai dengan berkembangnya perasaan mudah marah, mudah tersinggung, mudah berkonflik, dan puncaknya ingin keluar dari keadaan kita.
Mengapa kita tidak bahagia?
·         Menjauhkan diri dari kebahagiaan
Ini kesalahan umum orang-orang yang gagal meraih kebahagiaan. Mereka percaya bahwa kebahagiaan ada di masa depan.  Mereka terlalu berpegang pada pepatah lama: bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.  Ironisnya, masa depan yang dituju tidak pernah jelas batasannya, sehingga dia tak pernah tahu kapan bahagia.
Idealnya kebahagiaan merupakan proses yang terus-menerus. Kita memang harus berjuang mencapai cita-cita. Anak-anak memang harus belajar keras agar sukses, tapi bukan berarti harus mengorbankan kebahagiaannya saat ini.
·         Ketergantungan pada kesenangan
Orang kadang tidak bahagia karena di dalam dirinya tertanam keyakinan bahwa dia tidak akan bahagia sebelum memiliki hal-hal yang dia pandang bernilai.  Kita tidak akan bahagia bila perhatian kita tertuju pada segala sesuatu yang tidak kita miliki, bukan pada apa yang ada pada kita.
·         Mengharap segalanya sempurna
Kebahagiaan tidak akan datang pada mereka yang tidak dapat menerima keadaan dirinya dan lingkungan sekitarnya. Yang perlu disadari adalah bahwa amat sulit mengubah orang lain, meski itu bukan hal yang mustahil. 
Kebahagiaan tidak dapat disandarkan pada keadaan, tapi diri kita sendiri. Kebahagiaan bukan milik mereka yang selalu berharap mengubah situasi, kondisi dan orang-orang di sekitarnya, pasangan, anak, tetangga, dan atasan kita agar sesuai keinginannya. 
·         Tekanan keinginan
Banyak orang tidak bahagia karena di pikirannya tertanam keyakinan bahwa dia baru akan bahagia kalau semua keinginannya terpenuhi.  Keinginan sering membuat kita tegang, frustrasi, cemas, gelisah dan takut.  Bagi orang seperti ini, terpenuhinya keinginan hanya akan memberinya kesenangan dan kegembiraan sesaat, tetapi belum tentu memberi kebahagiaan.
·         Orang lain sebagai parameter
Orang juga tak bahagia bila cenderung membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Dia baru merasa bahagia bilamana sudah mampu menyamai atau melebihi orang lain yang dijadikan ukuran kebahagiaannya. Ini adalah tipikal orang yang tak pernah merasa bahagia, sebab yang dia kerjar sebenarnya hanya kesenangan, dan bukan kebahagiaan.
Bagaimana agar kita bahagia?
Menurut orang-orang bijak di masa lalu maupun kontemporer, agar kita bahagia ada beberapa hal yang perlu kita lakukan:
·         Ubah cara pandang tentang kebahagiaan
Kebagaiaan tidak pernah turun dari langit, melainkan kita sendirilah yang mesti membangun kebahagiaan kita sendiri.  Bukan keadaan yang membuat kita tidak bahagia, tetapi kita sendiri yang seharusnya mampu membuat kita bahagia atau tidak. Jangan menyandarkan kebahagiaan pada materi, status, pekerjaan, jabatan atau kebaikan orang di sekitar kita.
Ini petuah para sufi, tetapi diamini oleh filosof paling sekuler sekalipun. Kalau orang sufi menyarankan kita menjauhi dunia, orang modern menyarankan kita bukan menjauhi dunia sama sekali, melainkan menyarankan agar hidup kita tidak dikendalikan oleh materi (zuhud) atau tidak matre dalam bahasa gaulnya.
Salah satu ciri manusia yang tidak pantas bahagia adalah mereka yang selalu mengukur segala sesuatu dengan materi. Mereka yang selalu mendahulukan pertanyaan saya dapat berapa rupiah? saya dibayar berapa? atau apa keuntungan saya? biasanya akan hidup semakin jauh dari kata bahagia.
Dalam bahasa agama, kebahagiaan adalah milik mereka yang dihatinya tertanam nilai-nilai keikhlasan. Ironisnya, karena tekanan kebutuhan materi, semakin banyak orang, bahkan mereka yang bekerja di lembaga-lembaga keagamaan mulai menjauhkan diri dari semangat keikhlasan.
·         Memilahkan kebutuhan dari keinginan
Orang akan bahagian bilamana mampu memilahkan antara kebutuhan dan keinginan. Lebih sering kita dikendalikan keinginan melampaui kebutuhan kita sebenarnya.
Hampir-hampir kita tidak menjumpai orang yang tidak bisa makan di sekitar kita, tetapi kita juga hampir-hampir sulit menjumpai ada orang yang tidak mengeluh soal uang. Padahal penghasilannya mestinya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, tetapi daftar keinginannya yang panjang menjadikan penghasilannya tidak mencukupi.
Di sekitar kita dengan mudah dapat dijumpai orang lebih memilih menanggung beban kredit motor baru yang harganya selangit dari pada motor bekas yang sebenarnya masih layak pakai. Banyak orang yang lebih suka memakai HP, pakaian mahal, dan alat-alat elektronik yang mahal meski sebenarnya bisa digantikan dengan yang lebih murah.
Kalau melihat kecenderungan ini, sebenarnya tidak ada krisis yang menerpa kita. Kita sendirilah yang menciptakan krisis bagi diri kita sendiri. Ajaran agama untuk hidup sederhana (qona’ah) semakin dijauhi. Entah disadari atau tidak, ternyata kita lebih suka menciptakan beban bagi diri kita sendiri.
Untuk dapat kembali bahagia tentu saja kita perlu kembali pada nilai-nilai yang diajarkan agama. Qona’ah dan menghindari sikap-sikap gengsi (riya’) akan membuka jalan bagi kebahagiaan hari demi hari.
·         Menata iman
Ini bagian yang disinyalir paling banyak ditinggalkan, bahkan oleh mereka yang hidup atas nama agama. Bagi banyak orang, agama telah berubah peran, bukan lagi sebagai sarana menata hati, melainkan sebagai komoditas ekonomi. Akibatnya, banyak orang yang bekerja di lembaga-lembaga keagamaan sekalipun semakin jauh dari nilai-nilai suci yang diajarkan agamanya.
Sejak memasuki era modern, jauhnya nilai-nilai agama dari hati para penganutnya oleh para sosiolog dan antropolog dipandang sebagai awal krisis sosial dan kebudayaan. Manusia semakin terjauhkan dari

SEPUPUKU YANG MANJA 4

"Dik, aku nggak ngerti mengapa kita bisa sejauh ini" Aku memulai bicara tentang yang kami lakukan.
"Tadinya aku hanya ingin memperlakukanmu sebagai adikku sendiri, tapi entahlah... Aku begitu larut pada hal-hal yang tak seharusnya kita lakukan" Sambungku.
"Aku sendiri nggak tahu, mas. Sejak ketemu mas di sini, aku merasa nyaman banget bersama mas" Sahutnya.
"Hanya saja, selama ini ini aku tak berani berharap banyak, karena hubungan kekerabatan kita terlalu dekat" Sambungnya lagi.
"Mungkin pada dasarnya kita memang berjodoh, kali. Aku yakin, keluarga pasti merestui hubungan kita" Jelasku menentukan sikap. Gadis itu hanya tersenyum manis sekali. Terlukis jelas betapa dia setuju dan bahagia dengan ajakanku, dan sejenak kemudian kamipun larut dalam percintaan yang teramat dalam.
Sejak pulang dari Kaliurang tempo hari, kami jalani setiap waktu layaknya pasangan pengantin baru. Kemesraan demi kemesraan yang berakhir dengan percintaan yang hangat selalu mewarnai kebersamaan kami. Kami bahkan memutuskan, pulang bersama akhir pekan depan untuk bicara pada keluarga. 
---***---
"Kalian baru benar-benar dekat sekarang-sekarang ini, tapi memang cocok jadi kakak-adik" Celetuk bibiku saat aku antar di Inung ke rumahnya. Aku tak menyahut dan hanya tersenyum mendengarnya.
"Inung malah kurang dekat sama adik-adiknya" Sahut Pamanku. 
Hingga aku pamit pulang, kami saling bicara dan bercanda tentang banyak hal tapi tak sekalipun bicara soal hubunganku dan dik Inung. Ingin sekali aku bicara soal hubunganku dengan dik Inung, tetapi tak tahu bagaimana memulainya. Sejak bibi menyinggung kedekatanku dengan gadis itu, sebenarnya aku berharap paman menawarkan perjodohanku dengan dik Inung, tetapi sepertinya nada bicara paman dan bibi datar-datar saja.
"Gimana, sudah punya pacar belum?" Goda bibi saat aku beranjak pamit, tapi aku tak tahu harus menjawab saja. Aku hanya memandang wajah dik Inung yang tampak berninar.
"Ayo bilang saja. Cewek mana?" Paman menimpali.
"Belum. Belum ada" Jawabku malu-malu.
"Masa sudah semester akhir belum punya cewek?" Tanya Paman lagi.
"Mau cari yang kaya apa, sih?" Bibiku menimpali.
"Pengen yang kaya dik Inung" Jawabku ragu.
"Anak manja kaya gitu kamu suka?" Goda paman lagi yang membuatku tersipu.
"Yang penting jangan adikmu sendiri aja" Bibiku menimpali, dan seketika dadaku terperanjat. Aku merasa bibi dan paman tak berminat menjodohkanku dengan dik Inung.
"Kalau saudara sepupu kan nggak apa-apa, bu?" Sahut dik Inung tiba-tiba. 
"Ya, tapi kamu sama mas kamu ini kan saudara kandung? Kalau nyari yang mirip aja nggak apa-apa" Sahut bibi ringan yang membuat aku kian terkejut.
"Saudara kandung?" Sahut dik Inung heran, dan sontak suasana berubah tegang.
"Lho, jangan-jangan kalian ini pacaran? Sini, sini duduk dulu" Tanya Paman sembari meminta kami duduk.
"Kalian saling suka?" Tanya bibi keheranan, dan serempak kamipun menganggu.
"Aduh...Gimana, sih? Kalian itu kakak beradik. Memang nggak ada yang kasih tahu?" Tanya paman, dan kami hanya menggeleng.
"Kan sudah sering dikasih tahu?" Sahut bibi. 
Aku jadi teringat saat kecil banyak orang bilang kami kakak beradik, tetapi aku mengira itu karena dia anak pamanku. Aku tak mengira dik Inung memang benar adik kandungku yang sejak kecil dipelihara paman, saat ibu kandungku meninggal.
"Aduh.... Paman pikir kalian memang cocok karena hubungan darah, tapi ternyata... Aduh..." Jelas paman kehabisan kata-kata.
"Kalau kalian memang saling suka, aku minta jangan diteruskan, ya? Nggak boleh. Kalian saudara kandung. Ngerti?" Jelas paman. Kami hanya mengangguk meski kebingungan.
"Oke. Biar paman dan bibi saja yang tahu. Kalian harus tempatkan diri sebagai saudara kandung, ya?" Jelas bibi. Aku dan dik Inung hanya tertunduk tanpa mampu berkata apa-apa.


SEPUPUKU YANG MANJA 3

Seharian aku dan dik Inung menghabiskan waktu dalam selimut dinginnya gunung Merapi. Layaknya sepasang kekasih, kami terus bercengkerama sambil terus bergandengan tangan, menyusuri situs-situs bersejarah dan menikmati indahnya panorama Kaliurang. 
Cerita dan canda seakan tak henti menghiasi kebersamaan kami. Setiap kali duduk berdua di rerumputan, gadis itu selalu bersandar manja di dadaku, dan menyambut hangat dekapan tanganku. Sikapnya begitu manja seakan dia kekasihku, meski sebenarnya kami sadar seharusnya ini hanya ikatan kakak-beradik.
Aku bahagia melihatnya begitu riang seakan menemukan cinta dan kebebasan. "Aku merasa bahagia banget sekarang ini, mas" Celetuknya saat dalam pelalukanku. Aku tak menjawab dan hanya memperhatikan wajahnya saat menoleh ke arahku.
"Aku itu nggak pernah bisa manja-manja di rumah" Sambungnya.
"Mas tahu sendirikan ayahku? Orangnya galak banget" Sambungnya lagi yang disertai senyuman.
"Keluarga kita kan pekerja keras. Jadi nggak ada istilah manja-manjaan kan?" Sahutku tenang.
"Ya, tapi nggak tahu. Aku pengennya manja aja sama mas" Sahutnya.
"Aku juga suka kamu manja padaku" Sahutku.
"Bener?" Sahutnya ceria sembari membalikkan tubuhnya ke arahku.
"Hemmm... Kenapa tidak?" Jawabku sembari mengecupkan bibirku ke bibirnya. Wajah gadis itu tampak terhenyak dengan wajah berburai senyum sembari menatap tajam mataku. 
Sejenak akupun menatap wajahnya, dan kembali mengecupkan ciuman di bibirnya dalam-dalam. Beberapa saat nafas kamu serasa terhenti oleh buai kelembutan yang menyusup begitu dalam ke dasar jiwa. Segurat rasa geli serasa merayapi sekujur urat nadi, yang dengan lembut menggugah hasrat kelelakianku.  
"Hah..." Kami sama-sama melepas nafas seakan habis menyelam beberapa menit di dalam air. Segurat senyum tertahan menghiasi wajahnya yang menatapku nanar. Senja itu begitu indah seakan hanya ada kami berdua. Mendung yang menghitam di langit Kaliurang serta hembusan hawa dingin yang kian menusuk tulang memanaskan bara hasrat yang kian merekat.
Kami bahkan kembali saling erat berpelukan saat hujan deras mengguyur tanpa peringatan. Kecupan demi kecupan kian dalam kami padukan sederas air hujan yang tertumpah dari telaga surgawi. Beberapa kali kami bahkan bergulung-gulung dalam dekapan, tak pedulikan lagi kilatan petir yang menyambar. Derasnya curahan air hujan serasa kian menyatukan rasa jiwaku ke dalam jiwanya.
Suara beberapa pohon tumbang di sekitar rerumputan itu baru menyadarkan kami betapa alam sedang tak sedang berramah-tamah pada bumi. Kamipun bangkit, dan kulihat wajah dik Inung mulai pucat pasi. Bibir mungilnya membiru jemarinya serasa mulai membeku.
Kamipun melangkah menuju motor yang setia menunggu di ujung parkiran. Hanya motor kami yang masih tersisa di sana. Sementara langit kian redup menyemput senja, perlahan kami melaju menuruni punggung gunung Merapi, menembus derasnya hujan.
Dik Inung memeluk erat pinggangku, hingga dua buah payudaranya yang munggil terasa menekan lembut punggungku. "Mas..., mas..." Aku dengar dia memanggil-manggil saat motor berjuang meliuk mengikuti kelokan jalan.
"Apa dik?" Tanyaku sembari mengurangi laju motor.
"Aku... gak ku...at" Jawabnya menahan dingin. Seketika akupun hentikan laju motorku. Kulihat tubuhnya mulai benar-benar menggigil menahan dirngin.
"Kita istirahat saja di penginapan" sahutku sembari perlahan menjalankan motor. Langsung saja kubelokkan motorku ke halaman penginapan sederhana. Setelah ditemui pemilik penginapan aku memapahnya perkahan ke kamar. Aku mulai gugup saat kudapati nafas gadis itu mulai tersengal-sengal.
"Dik... dik... aduh..." Aku mulai panik melihatnya. Aku tahu dia sangat kedinginan dan hampir-hampir mengalami hipotermia. Segera saja kulepas seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya, lalu aku elapi sekujur tubuhnya, kubaringkan di atas tempat tidur, lalu kubebal dengan selimur dan kain sprei kamar itu.
Sejenak aku keluar kamar meminta teh hangat dan minyak kayu putih, lalu kuoleskan ke sekujur tubuhnya. Hasrat yang sejak siang serasa membara kini berganti kepanikan, tapi aku berusaha tenang, dan terus membantunya lepas dari deraan kedinginan.
Aku mulai lega saat nafasnya tak lagi tersengal, meski tubuhnya terlihat gemetar kedinginan. "Mas... dingin, mas..." Keluhnya berkali-kali, tanpa aku tak tahu apa yang harus kulakukan lagi.
"Mas... dingin..." Kesekian kalinya dia merengek kedinginan. Tanpa pikir panjang akupun melepas seluruh pakaianku. Setelah mengelap air yang membasahi tubuhku, akupun mendekap tubuh gadis itu erat-erat lalu membebal tubuh kami berdua dengan selimur dan sprei tempat tidur, tetapi dinginnya udara Kaliurang senja itu tetap terasa menembus tubuh kami.
Tanganku tak henti mengusap tubuhnya mengharap hawa panas segera memulihkan gadis itu dari kedinginan.   Kutindihkan pahaku di atas paha rampingnya. Aku terus gesek-gesekkan pahaku ke atas pahanya. Kubiarkan hasrat kelelakianku bangkit dan peniskupun menegang terhimpit tubuhku dan pinggulnya mungilnya.
Kurasakan detak jantungku kian cepat berdegup, dan nafasku terasa kian tersengal, diiringi hawa hangat yang kurasakan memendar dari dalam tubuhku. Tanpa kusadari aku tergoda oleh tubuh ramping itu, tetapi aku terus fokus mengusir dingin yang hampir-hampir mencekat nafas gadis itu, dengan gerakan pahaku dan jemari tanganku yang tak henti mengelus tubuhnya.
Aku tak pungkiri keinginan nakalku saat mengelus payudaranya. Meski kumaksudkan untuk menginduksikan hawa hangat ke tubuhnya, sesekali aku memilih lembut puting mungilnya yang mengkerut. Akupun tak menyia-nyiakan kesempatan saat jemariku menjulur lembut ke bagian bawah perutnya. Sesekali kuraba vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu lembut.
Gadis itu hanya diam saat aku melakukan semua yang tak seharusnya. Dia terlalu larut oleh deraan hawa dingin yang hampir-hampir membunuhnya. Aku mulai lega saat dia terlihat mulai tenang, dan nafasnya mulai teratur. Aku tak menghentikan gerakan tangan dan pahaku yang tak henti mengusap bagian-bagian tubuhnya yang terjangkau gerakanku.
Hasrat kelelakianku terasa kian memanas saat gadis itu terlihat benar-benar terbebas dari deraan rasa dingin. Batinku terhenyak saat tapak tanganku kembali mengusap payudara mungilnya. Kurasakan puting gadis itu menegang, tetapi aku bersikap tenang seakan tak merasakan apa-apa. Bahkan penisku yang kian keras menegang sengaja kudekatkan dengan permukaan vaginanya.
Dik Inung terlihat tak lagi hipotermia. Tubuh kami bahkan terasa gerah oleh keringat yang mulai membasahi beberapa bagian tubuhnya, tetapi gadis itu membiarkanku menggerayangi tubuhnya. Dia bahkan hanya meleguh saat jemariku meraba bukit mungil di bawah perutnya. Aku kian tergoda mengusap bagian terlarang itu saat kurasakan cairan licin membasahi sela-sela bibir vaginanya.
Matanya menatap nanar saat jemariku kian dalam menyusup liang sempit yang terasa kian licin itu. Jelas kurasakan detak jantungnya kian terpacu dan nafasnya tersengal saat kusentuh daging lembut di sudut atas vaginanya. Tubuhnya perlahan menggelinjang dan kian keras meronta saat jemariku kian cepat bergerak di liang sempitnya. "Mas... Mas..." Leguhnya berulang kali, seakan memintaku tak berhenti.
"Mas... Mas..." Pekiknya kian keras sambil menggelinjang-gelinjang. "Mas...!" Pekiknya memuncak sembari tangannya menahan jemariku, seakan memintaku berhenti.
"Aku nggak kuat, mas..." Leguhnya lirih. Akupun menghentikan gerakan tanganku, dan beralih mengelus perut dan dadanya.
"Mas..." Kembali di Inung memanggilku, seakan memintaku berhenti.
"Oke" Jawabku sembari melonggarkan dekapan, tetapi dia justeru menahanku dan menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Dengan senang hati kurengkuh kembali tubuhnya, hingga penisku terasa hangat saat menyentuh vaginanya yang basah.
"Mas..." gadis itu terus menarikku seakan memintaku menindih tubuhnya. Akupun menurut dan mendekap tubuh ramping itu dari atas. Kubiarkan penisku terhimpit di sela pahanya, tepat menempel di vaginanya. Akupun tergoda menggerakkan pinggulku menggesekkan bagian atas  penisku menyentuh sela vaginanya.
Aku sangat ingin menyusupkan alat vitalku ke vaginanya, tetapi aku ragu melakukannya. "Sudah ya, dik" Bisikku sembari mencoba kembali berbaring di sisinya, tetapi gadis itu menahanku.
"Mas..." Bisiknya sembari mendekapku.
"Kamu sudah nggak kedinginan lagi, kan?" Tanyaku lirih sembari mencoba melepaskan pelukanku, tetapi lagi-lagi gadis itu menahanku hingga beberapa saat aku menindih tubuhnya.
Tiba-tiba tangan gadis itu menarik penisku, dan meletakkan tepat di liang vaginanya. Seketika aku terkesiap, karena tak menyangka dia meminta aku menyetubuhinya.
"Dik... Jangan. Kamu kan adikku?" Bisikku mencoba menolak.
"Aku kepingin banget, Mas.." Bisiknya sembari terus menarik penisku.
Beberapa saat aku diam menahan keraguan, tetapi akhirnya akupun tak kuasa menahan diriku. Perlahan akupun menekan penisku di liang vaginanya yang terasa begitu sempit menjepit. "Pelan, Mas..." Rintihnya saat aku sedikit memaksa. Akupun menarik lagi ujung penis yang terhimpit liang sempit itu.
Setelah beberapa kali kutekan perlahan, lalu kutarik kembali dan tekan lagi, akhirnya penisku benar-benar hilang dalam lumatan vaginanya yang sempit, hangat, licin dan begitu nikmat. Gadis itu terus meleguh mendesah saat aku tarik dan tekan penisku ke vaginanya, dan beberapa saat kemudian tubuhku mengejang hebat bersamaan dengan segumpal cairan yang menyembur ke dalam rahimnya.
Saat tubuhku melemas, aku terus memeluk gadis itu beberapa lama. Tak ada kata terucap. Hati dan pikiranku terasa kosong. Hingga terlelap dalam pelukan, aku masih tak mengerti mengapa semua ini bisa terjadi di antara kamu. Aku dan sepupuku jatuh dalam persetubuhan yang tak semestinya kami jalani.