Rabu, 31 Desember 2008

VIDEO SEKS PERTAMAKU

Berbekal handphone berkamera, akhirnya aku bisa mengabadikan momen percintaan bersama istriku. Diam-diam aku merekam adegan itu, tentu saja tanpa sepengetahuannya. Dia pasti marah-marah andai saja tahu ada rekaman percintaan itu.
Hmmm.... Indah juga. Sangat Indah. Melihat video itu membuat aku merasa sangat bersyukur menikahinya. Dia sangat cantik, seksi, begitu mempesona, dan teramat menggoda dalam tampilan tanpa busana. 
Video itu membuatku merasa betapa kenyataan cintaku jauh lebih indah dari yang aku rasa. Aku punya kisah cinta itu begitu luar biasa. Aksinya dalam bercinta tak kalah heboh dibanding video bokep yang beredar di internet, bahkan tak beda dari artis-artis porno yang beredar selama ini. 
Aku seperti diingatkan betapa selama ini, kami leluasa bercinta di mana saja, di kamar tidur, dapur, kamar mandi, bahkan saat rumah sakit. Kami begitu mesra dan bahagia. Maafkan aku, sayang. Selama ini aku tidak syukuri nikmat ini? 
Mungkin kamu benar. Kamu sudah memberikan semua seperti orang kebanyakan, tetapi rasa dahagaku akan percintaan yang terlalu berlebihan. 

Kamis, 25 Desember 2008

BERCINTA DALAM HAYAL


Aku selalu berhayal sedang bermesraan dan bercinta. Dari semua pengalaman bermesraan dan bercinta dengan perempuan selama ini, rasanya aku lebih suka seks dalam kemesraan yang berlama-lama dari pada seks yang heboh. Sesekali bolehlah seks yang heboh, tapi kenikmatan seks macam itu biasanya terlalu singkat dan kurang cukup memberikan relaksasi, bahkan kadang membosankan.
Realitasnya. Istriku memang bekas milik orang, tapi jelas-jelas bukan saatnya mempersolakan semua itu. Semua itu tak akan mengubah keadaan di masa lalu dan masa depan. Aku hanya berharap bagaimana menikmati semua yang ada semaksimal mungkin.
Aku sendiri juga bukan cowok yang suci dari perempuan. Kemesraan dengan pacar memang sudah insting. Mereka yang tidak begitu malah bukan manusia normal. Lebih payah lagi kan? Yang penting dia sayang aku, dan aku berusaha meyayangi dia semaksimal mungkin. Yang penting bagai mana kami berdua dapat menikmati realitas ini, bahagia atas semua ini. Itu saja.  
Dibanding beberapa wanita yang pernah aku kenal, dia termasuk terlalu pasif. Dulu aku memang berharap dapat perempuan seperti itu. Sebenarnya akhir-akhir ini dia sudah lumayan respon, meski masih belum seperti yang aku inginkan.  
Kalau payudaranya kupegang istriku cuma merasa geli dan risih. Hingga beranak dua, istriku tak pernah berani buka baju di hadapanku. Dia baru mau dibuka seluruh bajunya saat sedang bercinta.
Dia hanya merasa nyaman dengan kebersamaan tetapi kurang punya hasrat seks. Kalaupun dia mau lakukan yang aneh-aneh sedikit itu hanya karena dia ingin menyenangkan aku, padahal dia sendiri selalu kikuk melakukannya. Belum lagi keluhannya yang selalu menyertai, yang sakitlah, yang lemaslah…
Aku lebih suka bercinta dalam hayal. Berdua dengan seorang perempuan cantik. Berciuman mesra, saling raba, geli-geli nikmat sekali. Kuremas-remas lembut kedua payudaranya yang montok. Dia menggelinjang terbuai keenakan. Lama sekali kami larut dalam kemesraan. Aku kulum lembut payudara itu dan sekujur tubuhnya.
Dia mengulum penisku lembut dan lama sekali, membuatku tenggelam dalam nikmat yang tiada tara, lama sekali hingga spermaku hampir-hampir keluar. Lama sekali aku kulum vaginanya dengan lembut, lama sekali hingga dia hampir-hampir orgasme.
Lama sekali kami bersenggama, membiarkan penisku terjepit liang licinnya, sampi berciuman, saling raba, saling elus. Lama sekali hingga kami sama-sama lelah dan tertidur.  Bagnun tidur kami ulang kembali kemesraan itu, seakan tak pernah ingin mengakhirinya. 

MASALAHKU SENDIRI



Yang aku suka dari istriku adalah tubuhnya ramping, putih, mulus. Singkatnya, secara fisik aku suka banget. Yang kurang aku suka, dia itu kurang tertarik pada seks. Tidak setiap saat dia mau bermesraan, dan apalagi bercinta.
Dia tipe cuek seks, permikir monolitik dan gila kerja. Kalau sudah sibuk sesuatu sulit ditarik ke ranjang. Dia kurang ngêrês. Bahkan dia lebih banyak mengeluh soal seks. Keadaannya seperti aku kalau lagi sibuk sesuatu. Masalahnya, hampir tiap detik dia seperti itu.
Sedikit rahasia masa lalu terkuak. Meski Cuma pengakuan tak langsung, aku sadari bahwa sebenarnya istriku pernah dapatkan pasangan yang benar-benar cocok secara mental dan visi hidupnya. Makanya begitu awet dan sulit terpisahkan.
Ukuran cinta memang bukan bagaimana pandangan orang lain, tapi kebutuhan rasa pelakunya. Bila yang menjalani memandangnya sudah ideal dan cukup, maka orang lain tak dapat berbuat banyak. Aku tahu dia masih sangat mencintainya, memujanya, dan mengenangnya sebagai masa terindah dalam hidupnya.
Aku benar-benar yakin bahwa aku manusia yang gagal untuk urusan cinta. Aku hanya punya seorang perempuan, tubuh istriku, tapi bukan seluruh hatinya. Sebagai orang timur, aku terpenjara oleh lingkungan, terutama keluargaku. Aku harus menerima kenyataan ini, tanpa pernah dapat mengubahnya demi menjaga perasaan orang tuaku, keluargaku.
Satu-satunya yang mungkin aku raih hanya kenikmatan seksual. Itupun belum memuaskan. Terlalu sedikit kesempatan yang aku dapatkan dibanding yang aku butuhkan. Mungkin juga pengalaman bersama dik Iid membuat sensasi bersama istri menjadi kurang terasa. Setelah cinta yang gagal kuraih, aku tak perlu menyoal keperawanan.
Bagaimana mungkin menyoal masalah keperawanan, sedangkan yang aku nikahi jelas-jelas bekas bini orang.  Kisah kemesraan dan gairah itu jelas tak lepas dari roman cintanya di masa lalu. Hanya saja dia memang tertutup soal yang satu itu, tapi dari sikapnya jelas dia tak memungkirinya. Karena itu, yang mungkin aku harapkan hanya seks yang memuaskan. Aku ingin dia jadi seorang perempuan yang binal di hadapanku, haus seks dan penuh gairah. Aku ingin dengar, mas… aku puas… oh… ah…
Kalau mau jujur, jelas aku tidak puas dengan kenyataan jodohku. Tapi itu semua salahku sendiri. Resiko tindakan bodoh, puncak dari sekian kebodohan dalam tindakan yang pernah aku lakukan. Seperti halnya soal disertasi, aku juga nggak akan menyalahkan Nyoto. Dia memang nggapleki, tapi di sisi lain aku sendiri tidak mampu bekerja dengan baik, sebaik yang mestinya dapat kulakukan.  Orang lain bisa, kenapa aku gagal? Artinya masalah ada pada diriku sendiri.

MONDAY, JANUARY 22, 2007

Rabu, 24 Desember 2008

RINDUKAN AKU, PLEASE....!!!

Delapan jam perjalanan dari Jogja lumayan melelahkan. Kalau bukan karena keluarga, rasanya malas bolak-balik menempuh perjalanan sejauh ini. Rasa kantuk dan lelah selama nyetir tersisih oleh keinginan bertemu keluarga, anak-anak dan tentu saja istri tercinta.
Apalagi di Jogja saat ini kian banyak pemandangan indah yang membangkitkan gairah. Di kalangan cewek sana lagi ngetred pakaian bawah model celana pendek dari kain tipis, entah apa namanya. Banyak cewek yang begitu PD jalan-jalan hanya dengan memakai celana pendek tipis, yang panjangnya tidak lebih dari separuh paha, atau lebih tepatnya hanya sekitar sepertiga paha, bahkan kurang.
Jujur saja, pemandangan ini secara signifikan selalu membangkitkan gairah. Meski
demikian , aku selalu alihkan godaan ini dengan mengingat yang biasa kutemui di
rumah, terutama saat istri sedang tidur. Aku manfaatkan saja daa tarik ini sebagai penambah kerinduanku pada kehangatan seorang istri. Meski dirundung rasa lelah, kantuk, aku berusaha tetap fokus, directing my car to stay on the way. Dalam hati aku berharap segera dapat memuaskan hasrat batin itu di rumah.
Sekitar pukul 10.30 malam akhirnya aku sampai di rumah dengan selamat, tapi kali ini tak seorangpun menyambutku. Kalau aku datang saat anak-anakku belum tidur, biasanya mereka pasti bersorak histeris seperti menyambut pahlawan yang baru datang dari medan perang. Cuma saja kali ini mereka sudah tidur, begitu pula istriku. Hanya pembantu yang suka rela membukakan pintu gerbang, garasi dan membuatkan kopi panas.
Segera saja aku mandi sebersih mungkin. Aku berharap kuman dan kotoran di jalanan tadi tidak menyebar ke seluruh penjuru rumah, apalagi menulari anak-anakku. Selain itu, aku juga berusaha agar bau badanku tidak jadi pengganggu saat aku mendekat pada istri.
Selesai mandi aku datangi anakku satu-persatu di kamarnya. Aku mencium pipi dan kening mereka dan tidak terkecuali istriku. Anak-anak hanya meregangkan tubuhnya saat merasa aku cium pipi dan keningnya, kemudian kembali tertidur pulas. Istriku juga hanya terbangun sejenak saat aku menciumnya, “Pa…, sudah nyampai?” sapanya sembari tersenyum.
Tentu saja, aku tak perlu menjawab pertanyaan itu. Segera saja kurebahkan tubuhku di samping tubuhnya. Perlahan kurengkuh tubuh sintal itu, tapi serta-merta ia menyergah, “Ih… apaan, sih?”
“Aku kangen, sayang” rajukku, sembari sedikit memaksa memeluknya. Perlahan kuelus lengannya yang terbuka, tapi serta-merta dia menepisnya. Aku tidak patah arang dan perlahan mencoba mengelus pahanya yang tersingkap. Kali ini dia tidak lagi menyergah melarang, melainkan menghardik, “Ih… capek… capek. Aku ngantuk! Sana tidur sama anak-anak saja. Orang lagi ngantuk, kok”
Akupun menyerah dan beranjak pergi. Persis seperti yang sudah-sudah, aku kembali harus menelan mentah-mentah kekecewaan batin untuk kesekian kalinya. Ditolak dan ditolak, bahkan sekedar untuk memeluk istriku sendiri.
Rasa lelah dan kantuk yang belum juga sirna kini telah bertambah rasa kesal dan kecewa. Aku hanya bisa menghibur diri dengan memotretnya dalam pose-pose seksi saat tertidur. Dalam hati aku selalu berguman, kenapa tubuh yang sebegini seksi seakan tak memiliki "strom" sama sekali?
Setelah hampir seminggu berpisah, kenapa tidak ada yang merindukanku? Ke mana kerinduan mesti kutumpahkan?
Mendapatkan hangatnya kemesraan suami-istri tak ubahnya menunggu hujan salah musim saja. Seolah perlu keberuntungan untuk mendapatkan kesempatan yang satu itu. Terus terang, kadang rasanya kesabaran ini sudah sampai titik akhirnya. Ketabahanku sudah kian kehilangan daya tahannya. Jiwa ini sungguh telah rapuh oleh kehampaan dan rasa-rasa yang tiada lagi bermakna. Bila suatu hari ada hati yang terbuka menyambut kerinduan ini, bila suatu saat ada hati yang menawari sejuknya kerinduan, aku tidak bisa janji akan mampu menghindarinya.