Rabu, 13 Maret 2013

PERNIKAHAN MANTAN PACAR ISTRIKU

Sejak ditelepon mbak Umi tadi pagi, wajah istriku begitu kusut. Raut kesedihan terlihat jelas di wajah cantiknya. Ocehan pagi yang biasa mengantarnya menyambut hari sama sekali tak terdengar. Dia berlagak biasa saja, seakan tak ada apapun yang membebani perasaannya, tetapi raut mukanya tak mampu menyembunyikan duka. 
Aku sempat berfikir ada yang salah dariku, tetapi seingatku tak ada yang aneh seminggu belakangan. Aku sangat ingin mengintip handphone dia, tetapi benda itu terus berada dalam genggamannya. Aku berpura-pura keluar rumah saat dia kemar mandi, dan tanpa sadar dia geletakkan handphone begitu saja di meja makan.
Seketika aku mengambil handphone itu. Rupanya bukan hanya mbak Umi yang telepon dia, tetapi Mukhlisoon juga. Aku bertanya-tanya apa gerangan yang membuatnya begitu sedih. Sepertinya Zaenal menikah hari ini. Lamat-lamat aku tadi mendengar dia bicara soal pernikahan, dan mengucapkan selamat.
Aku coba ambil handphone istriku yang lain. Nomor GSM ini jarang dia pakai telepon mbak Umi, sebab mereka suka ngobrol lama-lama pakai Flexy. Sekejap aku keluar rumah sambil menyimpan benda itu rapat-rata di kantung celanaku. 
"Eh, mbak. Nikahannya jam berapa?" Aku SMS mbak Umi pakai handphone istriku. Sejujurnya aku hanya berpekulasi. Aku berharap mbak Umi mengira SMS itu dari istriku.
"Saiki Nyik. Jam 10. Ini dah mo brngkat" Jawabnya.
Rupanya, istriku begitu sedih mendengar mantan kekasihnya menikah. Dia begitu gelisah hingga tak dapat menyembunyikan perasaannya di hadapanku.
Beberapa saat kemudian, aku kembali ke rumah. Rupanya istriku belum juga keluar dari kamar mandi. Keran air terdengar mengucur deras. Padahal aku tahu kamar mandi itu seharusnya sudah penuh, sebab sebelum istriku ke sana aku biarkan bak mandi itu terisi penuh.
Beberapa saat kemudian istriku keluar dari kamar mandi. Dia tak terlihat habis mandi, dan hanya mencuci mukanya saja. Celana ketatnya tak terlihat basah, pertanda dia tak buang air besar.
Dia langsung ngeloyor ke dapur, seperti mencari sesuatu. Dia tampak kebingungan di ruangan itu, tanpa jelas apa yang akan dia lakukan. Aku mencoba mendekatinya, tetapi dia buru-buru ke ruang tengah. Sepertinya dia enggan aku dekati, entah karena takut aku menanyakan masalah yang membebani hatinya atau entah apa aku tak tahu. Yang jelas, dia merasa sedih mendengar mantan kekasihnya menikah hari ini.
Aku mencoba memeluknya dari belakang saat dia menyalakan TV, tetapi lagi-lagi dia tepis. "Apa sih? Gerah, nih" Sergahnya sembari ngeloyor ke ruang belakang. Aku biarkan dia terlihat sibuk di dekat dapur, meski terlihat bingung melakukan apa. Sepertinya dia ingin aku menjauh agar tak tahu perasaannya.
"Ma, kamu baju sekarang. Sudah mandi belum?" Tanyaku serta-merta.
"Mau ke mana?" Sahutnya terkejut.
"Aku lupa ada acara pernikahan hari ini. Mungkin agak terlambat, tetapi nggak masalah. Yang penting kita datang"
"Pernikahan siapa? Aku kok nggak tahu"
"Teman. Ayolah. Buruan"
"Anaknya?"
"Biar aku yang gantikan baju"
"Nggak mandi?"
"Biar aku yang mandiin. Kamu mandi duluan saja" 
"Sebentar. Siapa yang nikah?"
"Temanku. Undangannya di mana aku lupa naruh, tapi yang jelas hari ini" Jawabku berbohong.
Meski terlihat ragu, diapun beranjak ke kamar mandi, dan aku bergegas mengganti pakaian kedua anakku. Istriku terlihat lebih segar saat kembali masuk kamar, tetapi tak henti bertanya siapa yang menikah. 
"Sudahlah. Aku kasih tahu, kamu juga nggak tahu" Jawabku kembali berbohong. Dia terlihat ragu untuk ganti pakaian, dan terus menanyaiku. 
"Eh, bisa nggak, papa aja yang ke sana? Mama lagi kurang enak badan" Tiba-tiba dia mencoba menolak ajakanku.
"Percuma kalau kamu nggak ikut"
"Emang kenapa? Kemarin waktu pernikahan teman papa mama juga nggak ikut"
"Kali ini mama harus ikut"
"Iya, kenapa?" Desaknya penasaran.
Akupun berdiri dan memeluk tubuhnya yang hanya berbalut handuk. Dia mencoba berontak, tetapi aku tahan hingga wajahnya tenggelam dalam pelukanku. Aku harap dia melepaskan kesedihannya di dadaku, tetapi dia malah berontak.
"Enggak. Ini mau ke mana?" Sergahnya berusaha melepas pelukanku.
"Memangnya kenapa, sih?"
"Ya aku perlu tahu kita mau ke mana?" Sahutnya dengan nada tinggi sembari menatap mataku dalam-dalam. Rona kesedihan begitu jelas terlihat di bola matanya yang memerah.
"Aku ingin mama nggak bersedih lagi" Jawabku lirih.
"Sedih? Memang kenapa? Nggak usah sok tahulah..." Kilahnya sembari terduduk di pinggir tempat tidur.
"Zaenal menikah hari ini. Aku pikir..."
"Idih! Ngapain sih ungkit-ungkit masalah itu lagi?" Sergahnya emosional, sembari membanting pakaian ke lantai.
"Aku lihat sejak telepon Zaenal tadi kamu terlihat sedih, jadi..."
"Alaah... Aku paling sebel kalau kamu bicara soal itu lagi"
"Sayang, aku ingin kamu datang ke pernikahannya"
"Ngapain?! Sudah. Aku nggak ikut. Kamu saja ke sana" Hardiknya.
"Aku benci kamu sok tahu perasaanku"
"Oke..., terserah kamu saja" Sahutku sembari meninggalkannya. Kututup pintu kamar itu dan kubiarkan dia melakukan apapun yang dia suka.
Aku tahu dia hanya butuh waktu untuk menangis, tanpa aku perlu tahu yang dia rasakan.
Aku mulai gelisah setelah hampir dua jam istriku mengunci diri di kamar. Dia sama sekali tak terlihat keluar kamar, bahkan setelah beberapa saat aku keluar beli rokok dan ngopi di warung, dia masih juga di sana tanpa suara.
"Maaf ganggu, mas" Kataku mengawali telepon dengan Zaenal siang itu.
"O ya, mas. Nggak apa-apa"
"Istriku sangat sedih mendengar mas Zaenal menikah"
"Masa?"
"Iya. Dari pagi tadi dia terus di kamar, sepertinya menangis. Saya nggak berani ganggu"
"Aku minta tolong. Mas bisa bantu bicara dengannya"
"O ... Emm... Gimana ya?" Jawabnya ragu.
"Kalau nggak ngrepotin sih. Kalau mas lagi sibuk ya sudah nggak masalah"
"Repot sih enggak, tapi rasanya kok nggak enak aja"
"Kalau gitu saya panggil ya?" Timpalku seraya mengetuk pintu kamar.
"Sayang..., sayang... ini ada telpon" Beberapa kali aku memanggil istriku yang mengunci diri di kamar, tetapi dia seperti enggan menyahut.
"Sayang...", Aku kembali memanggil, tetapi tidak dijawab, tapi tiba-tiba saja dia membukakan pintu dengan wajah sembab. Akupun menyerahkan handphone itu dan bergegas pergi menjauh. Aku tak ingin dia terganggu.
"Papa maunya apa, sih?" Hardiknya saat aku kembali ke rumah.
"Mau apa gimana?"
"Ngapain papa telpon-telpon dia?"
"Sayang...." Rayuku sembari berusaha memeluknya, tetapi istriku menepis dekapanku.
"Aku nggak suka papa telpon-telpon kaya gitu"
"Oke. Aku cuma kasihan melihat kamu"
"Kasihan apanya? Nggak usah sok tahu, kenapa?"
"Oke..., tapi mama sekarang sudah tenang, kan?" Tanyaku meyakinkan, tetapi dia hanya berlalu tanpa menjawab.
"Aku mau keluar sama anak-anak.Kamu mau ikut?" Tanyaku menawarkan. 
"Ke mana?"
"Renang"
"Enggak. Mama di rumah aja" Jawabnya sambil mengutak-atik handphone di sofa. Akupun meluncur keluar besama kedua anakku.
---***---
"Papa ke mana aja? Sudah jam segini kok belum pulang?"
"Masih di Mall, sayang. Anak-anak minta ayam goreng dan mainan"
"Ya Allah. Apa mereka nggak kecapekan?"
"Tanya aja sendiri" jawabku sembari menyodorkan handphone pada Fadhil, anak sulungku.
"Mas, aku mau ke Mall dulu, cari makan terus mainan" Ucap Fadhil.
"Iya, tapi jangan lama-lama sayang" Lamat-lamat kudengar ucapan istriku.
"Ya. Dah ya, ma. Assalamu alaikum"
Perasaanku sedikit lega menyaksikan anak-anakku begitu menikmati makan di KFC malam ini. Meski sejak siang berenang, mereka begitu riang menikmati wahana permainan di mall itu.
Beberapa kali handphone berdering tapi tak kuangkat. Aku malas terima telepon istriku malam itu. Aku memilih larut dalam kegembiraan anak-anakku di zona permainan mall itu. Kami baru keluar saat mall benar-benar tutup. 
Aku sengaja jalankan mobilku perlahan, menikmati gemerlap kota yang mulai sepi. Entahlah, aku merasa malam pulang malam ini, tetapi aku tak tega melihat buah hatiku yang mulai terlelap di jok depan dan belakang.
"Papa ke mana aja, sih? Jam segini kok belum pulang?" Teriak istriku lewat handphone.
"Masih di jalan, sayang"
"Ya. Allah... Jam segini baru pulang? Kasihan anak-anak, pa"
"Tenang aja. Mereka sudah tidur, kok"
"Iya, tapi cepetan"
"Oke" Jawabku singkat. Aku tak menambah kecepatan mobilku dan membiarkannya perlahan mengantarku pulang ke rumah. 
Aku langsung ke kamar mandi, sesaat setelah mengunci garasi dan menidurkan anak-anak di kamar. Kulihat istriku duduk mematung di sofa, sambil terus menatap kosong ke TV. Sepertinya dia menungguku untuk bicara, sebab aku tahu jam segini tidak ada acara TV yang dia sukai. 
Selesai sholat Isya' aku langsung rebahkan tubuhku di atas kasur. Kulemaskan otot-otot tubuhku yang lumayan kelelahan mengasuh kedua anakku sejak siang tadi. Di kamar yang kubiarkan gelap, sejenak aku berdo'a, lalu berusaha kosongkan pikiran sambil memejamkan mata. 
Aku berharap segera tertidur, tetapi tanpa kusadari justeru air mata terasa mengembun di pelupuk mataku. Aku tak tahu yang aku rasakan saat ini. Segulir kesedihan terasa mengiris ruang terdalam di hatiku, saat menyadari rupanya istriku masih begitu mencintai seseorang di luar sana. 
Air mata wanita itu melukaiku, membawaku di antara rasa kasihan dan kekecewaan. Aku kasihan melihatnya begitu berduka oleh pernikahan mantan kekasihnya. Duka itu melukai perasaanku tanpa seorangpun tahu.  



5 KEBOHONGAN WANITA PADA PASANGAN

VIVAnews – Menutupi beberapa hal pribadi, tak hanya dilakukan pria, tapi juga wanita. Tak bisa dipungkiri, wanita terkadang memutuskan untuk berbohong pada pasangannya dalam situasi tertentu.
Biasanya, wanita memilih berdusta demi melindungi perasaannya atau perasaan pasangannya, seperti dikutip dari She Knows. Lalu, apa saja hal pribadi atau kebohongan yang seringkali ditutupi wanita dari pasangannya?
1. Mantan kekasih
Banyak wanita yang tidak benar-benar berterus terang pada pasangannya tentang pria yang pernah dekat dengannya. Alasan wanita lebih dalam rangka jaga imej. Mereka tak ingin dianggap wanita murahan, sering gonta-ganti pacar atau tak sebaik harapan suaminya.
Selain itu, mereka juga ingin menjaga perasaan pasangannya, dan tak ingin merusak hubungan, terutama jika  mantan kekasih cukup banyak, atau ternyata dia masih mencintai mantan kekasihnya.
2. Alasan putus hubungan
Wanita seringkali memakai kebohongan ini untuk memutuskan hubungan dengan pria. Sebab, wanita tidak ingin terlalu lama berkonflik, maka dia pun akan mengaku sebagai pihak paling bersalah. "Ini bukan salah kamu, tapi ini salahku." Wanita hanya berbagi hal-hal umum pada pasangannya, agar terkesan baik dan dapat dipercaya.
3. Soal berat badan
Kebanyakan wanita merasa tidak nyaman ketika harus membicarakan berat badan kepada pasangannya. Terkadang, mereka terpaksa tidak berterus terang soal itu. Bukan bermaksud menipu kekasih, tapi hal ini karena ingin selalu tampak menarik di mata pasangan.
4. Memendam masalah
Ketika seorang pria bertanya kepada pasangannya, mengapa diam saja. Wanita sering menjawab,"Tidak ada yang salah. Aku baik-baik saja." Bila pria mendengar jawaban seperti itu, sebaiknya berhati-hati menghadapinya. Biasanya ada sesuatu yang salah.
5. Soal teman pria pasangan
"Aku tidak keberatan jika kamu pergi dengan teman-teman." Memang, wanita bisa menunjukkan wajah ikhlas ketika pria meminta izin untuk pergi bersama teman-temannya. Namun, biasanya wanita tetap merasa curiga, walaupun pada akhirnya tetap mengizinkan pasangannya.
• VIVAnews

KEPERAWANANKU UNTUK KEKASIHKU - 1

Sebenarnya aku tak pernah berfikir akan berhubungan begitu jauh sebelum menikah. Semua terjadi begitu saja, tanpa pernah aku bayangkan sebelumnya. 
Aku mengenal kak Arif saat aktif dalam kegiatan keagamaan di masjid dekat kampusku. Sebenarnya cowok itu tak begitu istimewa dibanding kebanyakan, tetapi setiap kali bertemu aku merasa ada sesuatu yang berbeda dari cowok itu. Yang jelas, dia sering kali memandangiku setiap kali kita sedang mengikuti kegiatan, dia terlihat memandangi aku, dan memalingkan wajah saat aku memandanginya.
Sebenarnya ada beberapa cowok yang kelihatan suka padaku, dan satu yang paling menarik hatiku sebenarnya Rohman, anak Madura. Dalam banyak kesempatan, cowok itu terlihat begitu perhatian padaku. Bahkan beberapa kali dia titip salam padaku lewat teman dekatku, tetapi cowok itu tak pernah sekalipun terus terang menyatakan cintanya padaku. Setelah beberapa lama menunggu tanpa kepastian, tiba-tiba kak Arif mendekatiku dan terus-terang menyatakan suka padaku. 
Sejujurnya aku sangat menantikan ajakan itu dari Rohman, tetapi karena tak ada kejelasan, akhirnya aku terima cinta kak Arif. Anehnya, tak berapa lama kemudian Rohman menemuiku dan menyatakan hal yang sama. Tentu saja aku bingung, tetapi aku pastikan untuk tetap dengan kak Arif, meski dari berbagai hal tak lebih baik dari Rohman. Aku harus merelakan pujaanku itu dan memilih setia dengan komitmen yang telah aku jalin dengan kak Arif.
Seiring berjalannya waktu, akupun dapat menikmati hubunganku dengan kak Arif. Ternyata dia lelaki yang menyenangkan. Penampilannya yang slengekan tak lagi terlihat sebagai kekurangan di mataku. Apalagi dia sangat pintar bercanda dan perhatian padaku. Aku bahkan sering dibuat gemas dengan sikapnya yang kadang nakal.




Selasa, 12 Maret 2013

ANTARA AKU DAN ZAENAL

Sejak memutuskan mengakhiri hubunganku dengannya 12 September 1999 lalu, aku jarang sekali kontak dengan lelaki yang pernah sangat kuharapkan menjadi pendamping hidupku itu. Sejak aku menikah 22 Januari 2000, hanya beberapa kali dia telepon, itupun semula karena Zaenal menghubungi adikku, Anny, yang kemudian diberikan padaku. Hingga beberapa tahun sesudah menikah, kebetulan Anny memang tetap aktif kontak sama dia. Itu sebabnya aku selalu tahu perkembangan keadaan lelaki terbaik di mataku itu dari waktu ke waktu.
Dia kembali telepon aku saat akan menikah dulu, yang itupun karena ada mbak Umi di Malang. Selain lewat Anny, mbak Umi memang jadi pengubung utamaku dengan Zaenal, bahkan sejak kami jadian. Bahkan boleh dibilang dialah sahabat yang rela menjadi "obat nyamuk" paling setiaku, menyediakan tempat, menyampaikan kabar, dan pokoknya wanita itu jadi segalanya bagi hubungan kami.
Sejak saat itu aku hampir-hampir tak pernah kontak Zaenal lagi kecuali sekedar untuk mengucapkan selamat hari raya, atau saat anaknya lahir atau saat dia naik haji. Aku memang berusaha menjaga hubunganku dengan lelaki itu tetap baik. 
Antara aku dan Zaenal sejak awal telah sepakat untuk tetap berteman sekalipun tidak bisa menikah, karena hubungan kami tak direstui orang tuaku. Apalagi kami memang teman dekat, temanku sekaligus teman dia juga.
Tentu saja itu kulakukan tanpa sepengetahuan suamiku, sebab sebelum-sebelumnya, sikap suamiku selalu kelihatan tidak berkenan setiap kali aku telepon Zaenal. Aku diam-diam menyimpan nomor HP Zaenal, yang di HP-ku dengan kuberi nama Mukhlisoon, tentu agar suamiku tak curiga. Aku pikir selama beberapa tahun ini suamiku tidak tahu. Apalagi dia jarang sekali menyentuh HP-ku kecuali saat menyetel atau membetulkan kerusakan. Aku sendiri kurang nyaman kontak sama dia, karena kuatir suamiku marah.  
Aku kembali nyaman telepon dan SMS Zaenal sejak dia pulang haji. Itupun karena Anny yang berikan HP itu padaku. Aku kembali terbuka padanya karena dia bilang selama ini aku sombong sekali padanya. Sejak saat itulah kebekuan hubunganku dengan Zaenal mulai mencair. Aku jadi makin nyaman kontak dengan lelaki itu setiap saat, kadang telepon, kadang saling SMS.
Aku sama sekali tak ada niat apapun selain berteman, tetapi harus akui, kontak dengan Zaenal memang ada perasaan yang berbeda. Tak dapat kupungkiri antara aku dan dia memang ada rasa yang istimewa. Kuakui rasa itu tetap ada meski kami tak mungkin bersama. Apalagi hubungan kami berakhir bukan karena kemauan kami, tetapi karena kehendak orang tuaku.
Aku masih senang mendengar rayuannya, sekalipun dia jarang memujiku secara langsung. Misalnya dia bilang kalau kehidupannya bahagia sekalipun istrinya tidak secantik aku. Hatiku berbunga-bunga saat dia bilang kangen padaku, apalagi  kata-kata seperti itu jarang dia katakan saat kami masih bersama dulu. 
Aku berusaha tak menanggapi ungkapan ungkapan seperti itu sekalipun terus terang aku sangat menikmati. Tak dapat kupungkiri aku bahagia dan sangat terhibur mendengarnya. Bagaimanapun aku harus menjaga diri agar tak jatuh dalam hubungan yang lebih jauh. 
Kadang aku masih merasa cemburu padanya. Entahlah, aku merasa sangat sedih saat dia menikah dulu. Aku juga merasa kesal mendengar Zaenal sering membanggakan keluarga barunya di hadapanku, tetapi perasaan itu aku sembunyikan dalam-dalam di lubuk hatiku. 
Aku tak tahu kenapa ada perasaan seperti itu, tetapi aku sama sekali tak berniat mengakhiri jalinan komunikasi yang kembali terajut ini. Bisa kembali bercengkerama dengan orang yang sangat aku kasihi, sudah lebih dari cukup buatku saat ini. Aku bahkan tak berharap lebih dari ini.
Aku benar-benar terbawa suasana untuk terus menikmati jalinan komunikasiku dengan Zaenal. Aku makin nyaman kontak dengan mantan kekasihku itu, hingga sering kali bertukar SMS nyaris tanpa henti. Aku sampai gelagapan menghapus SMS antara aku dan dia bila ada suami di dekatku. Bagaimanapun aku takut suamiku tahu.
Aku merasa lebih bebas berkomunikasi dengan lelaki itu saat sedang ramai-ramainya rencana reuni kampus. Pada saat yang sama aku sering kontak dengan teman-temanku yang lain, sehingga aku merasa punya banyak alasan untuk telepon atau ditelepon teman lamaku.
Aku berniat benar-benar menikmati hubungan dengan mantanku saat hatiku terasa gonjing (goyah) melihat suamiku yang pada saat yang sama sering bersikap tidak mengenakkan. 
Tanpa aku tahu sebabnya, suamiku sering bersikap kasar padaku, meski hanya dalam kata-kata. Dia kelihatan enggan telepon kalau di kantor, bahkan kalau ditelepon kelihatan sekali kalau dia malas menjawab. Kalaupun menjawab kata-katanya sangat tidak mengenakkan. Aku tak mau menanggapi saat suamiku sering sekali bilang, kalau bukan karena anak-anak dia tidak betah dengan pernikahan ini.
Aku sangat sedih mendengarnya. Kehadiran Zaenal dalam kehidupanku kembali terasa bagai satu-satunya tetasan embun yang menyejukkan jiwaku. Dengan senang hati aku menyambut kunjungan Zaenal ke rumah orang tuaku. Itupun sebenarnya karena adik istrinya menikah dengan orang Nganjuk. Aku juga bersemangat datang ke reuni karena Zaenal juga berjanji menemuiku di sana.
Suatu hari sikap suamiku benar-benar tak mengenakkan. Setiap kali ngantor, dia seperti enggan pulang. Selalu saja ada alasan untuk tidak pulang meski aku tahu tidak ada pekerjaan yang benar-benar penting. Sikapnya membuatku makin jengah, muak sebab ada banyak pekerjaan di rumah, termasuk mengurus empat orang anak yang sangat merepotkan. 
Aku memutuskan harus bicara dengan suamiku. Aku tak bisa biarkan keadaan terus-terusan seperti ini. Di luar dugaanku, rupanya suamiku lebih dulu bicara. Dia bilang selama ini dia menyadap telepon dan SMS-ku dengan Zaenal. 
Aku sangat shock dan tak bisa ngomong apa-apa lagi. Ternyata semua yang aku sembunyikan selama ini sudah dia ketahui suamiku. Dia tidak marah padaku, tetapi sangat kecewa telah menikahiku. Dia bilang pernikahan ini sama sekali tak ada artinya lagi baginya, bahkan dia sebenarnya ingin mengakhirinya. kalau bukan demi anak-anak. 
Dia memang tidak marah di hadapanku, tetapi dari tulisan-tulisannya jelas sekali kalau dia sangat kecewa padaku. Hatinya seperti sudah pecah berantakan karena perbuatanku. Dia tidak bisa percaya lagi padaku. Dia terus mengulang-ulang, betapa dia sangat menyesal telah menikah denganku. Aku sangat sedih, setelah memahami mengapa selama ini dia sering mengatakan itu.   
Aku berusaha meluruskan penilaiannya padaku, tapi percuma saja. Argumen apapun hanya kian memojokkan aku. Setiap pembelaanku terasa sia-sia karena dia seolah jauh lebih tahu jawabannya. Ketika aku bilang aku tak pernah bicara soal perasaan, dia tunjukkan sikapku saat mendengar rayuan Zaenal. Ketika aku bilang tak ada pembicaraan soal perasaan, dia tanya "apa selama pacaran kamu hanya bicara soal cinta-cintaan?" Ketika aku bilang hanya berteman, dia balik bertanya, "Kalau berteman kenapa selinthutan?", dan masih banyak lagi yang membuatku memilih pasrah.
Semua tanggapannya atas pembelaan diriku justeru menyakitkanku. Aku hanya bisa pasrah, dan hanya bisa berusaha memperbaiki sikapku pada suami. Aku bahkan dengan terpaksa membatasi hubunganku dengan teman-temanku, terutama mbak Umi, seorang yang paling berjasa buat hubunganku dengan Zaenal di masa lalu, bahkan setelah kami berpisah. 
Aku merasa beruntung karena punya anak yang mengikat suamiku tidak akan pernah pergi meninggalkan aku. Akupun berusaha lebih memperhatikan anak-anakku, terutama dalam urusan belajar, sekolah, dan makanan mereka, sesuatu yang hampir-hampir tak pernah kulakukan sebelumnya.
Aku berusaha membuat suamiku bahagia dengan melakukan apapun yang dia suka. Aku rela difoto dan shooting bugil karena dia bilang menyukainya, dan hanya itu satu-satunya hal menarik dari aku di matanya. Dia selalu menunjukkan sikap seakan tak ada masalah, tetapi aku kini sangat paham, suamiku paling pintar menjaga sikapnya meski yang dirasakan dalam hatinya justeru sebaliknya.