Jumat, 27 Maret 2009

KISAHKU 01 - MASA KECIL YANG TERKEKANG

Aku adalah gadis kecil yang punya banyak impian. Aku ingin tampil cantik, menyanyi, menari dan menikmati masa kecil seperti kebanyakan anak seusiaku. Sejak sekolah dasar, aku belum cukup berprestasi di sekolah. Mungkin karena sekolah masa itu belum banyak tuntutan, sehingga aku sekolah asal sekolah saja. Kedua orang tuaku juga tidak pernah menuntut apapun. Mereka bahkan lebih suka aku mengaji dan mengikuti kegiatan keagamaan dibanding sekolah.
Sebenarnya aku berminat sekali tampil di depan umum. Aku sangat menikmati bergabung di grup Qosidah di kampungku. Meski saat itu aku masih tergolong kecil, tetapi beberapa kali aku diminta menjadi penyanyi di grup Qosidah bersama anak-anak yang lebih dewasa. 
Di sekolah sebenarnya aku ingin sekali ikut kegiatan menari di sekolah, tetapi orang tua selalu melarangku. Sebagai orang santri dan termasuk ditokohkan di kampung, orang tuaku malu bila anaknya ikut dong gleng-dong gleng, katanya. Bahkan karena begitu besarnya keinginanku belajar menari, sampai-sampai suatu hari aku memecah tabunganku untuk membeli selendang, tetapi sayang orang tuaku tahu dan memarahiku. Keinginanku pupus oleh ego atau idealisme orang tuaku.
Aku merasa semakin tertutup ketika disekolahkan di Surabaya. Sekolah itu memiliki asrama khusus puteri. Yang sekolah di sana umumnya anak orang-orang kaya pada masa itu, dan aku termasuk orang paling pas-pasan di antara mereka. Orang tuaku bahkan harus menjual perhiasannya ketika harus memenuhi biaya pendidikan di sana.
Meski prestasiku di sekolah cukup menonjol, aku merasa sangat tertekan selama sekolah di sana. Setiap kali diantar ke asrama, aku selalu menangis. Aku tidak betah di sana, tetapi tak bisa menolak kehendak orang tuaku.
Seingatku tak banyak kenangan di sekolah, karena sekolah itu tidak banyak kegiatan lain, selain pelajaran demi pelajaran. Hal yang paling menghiburku hanyalah sikap beberapa guru yang begitu perhatian padaku, karena prestasiku cukup menonjol. 
Selain itu, di tempat itulah untuk pertama kalinya aku tertarik dengan lawan jenis. Waktu masih kelas 1 kebetulan masih bercampur dengan anak laki-laki. Di antara mereka ada seorang anak laki-laki yang aku suka banget.
Aku kagum pada anak itu karena kelihatan sabar, penurut dan pintar di kelas. Mungkin ini yang disebut cinta monyet, tetapi kekaguman itu hanya  kusimpan dalam hati selamanya, sebab setelah kelas 2 aku tak pernah melihatnya lagi.

Sabtu, 07 Maret 2009

PELAJARAN DARI SAHABAT

Kali ini aku berhasil sampai rumah agak sore, sekitar pukul 7.30 malam. Seperti biasa kalau aku lagi pulang sore pasukan kecilku pasti menyambutku dengan dengan sorak sorai., kemudian berebut masuk mobil yang berhenti di depan pintu gerbang.

Tidak seperti biasanya, kali ini istriku juga turut menyambutku di gerbang depan. Dengan wajah geli melihat keceriaan pasukan kecilku, aku menangkap segurit beban batin di sudut matanya. Meski begitu aku tak ingin memudarkan keceriaan mereka. "Jangan masuk dulu, pah" Sahut yang besar.
"Iya kita beli roti bakar dulu" sambung yang kecil.
"OK"

Akupun batal membelokkan kendaraan ke halaman dan terus meluncur ke pusat jajanan di tengah kota. Sepulang kerja aku memang biasa membawa mereka ke pusat jajanan di beberapa sudut kota kecil ini. Kadang hanya makan roti bakar, pisang bakar, terang bulan, atau fried chicken lokal.

Seteleh jajan sana-sini dan putar-putar kota sejenak kamipun meluncur pulang. Belum sampai di rumah, pasukan kecilku sudah tertidur pulas. Terpaksa mereka harus dievakuasi dari garasi satu persatu.

Setelah mandi dan ganti pakaian, kuhampiri segelas kopi panas yang disediakan pembantu di meja kerjaku. Hanya tidak seperti biasanya, kali ini istriku sudah duduk di sana, masih dengan raut wajah yang nampak memendam masalah. Aku tahu, kalau dia bersikap begitu pasti ada sesuatu yang hendak dia bicarakan. "Ada gosip apa nih, Ma?" tanyaku membuka percakapan.

"Ih..., ini bukan gosip, tapi beneran" sergahnya. Aku memang biasa memakai istilah gosip bila tahu ada yang hendak dia bicarakan.
"Trus apaan, tuh?" tanyaku.
Setelah jeda terdiam beberapa saat diapun memulai pembicaraan. "Tadi Farah di sini seharian?"
"Iya?" sahutku keheranan, dan dia hanya terdiam membenarkan.

Farah adalah istri temanku, Arif, yang sekarang jadi relasi usaha kami di rumah. Di antara keluarga kami terjalin komunikasi yang akrab, tapi jarang bahkan hampir tidak pernah kami saling berkunjung berlama-lama. Kalaupun sempat kumpul dan ngobrol santai paling di toko atau kebetulan ketemu di rumah makan.

Selain mengelola usaha di rumah kebetulan Arif juga pegawai pemerintah yang kantornya satu jalur dengan aku. Tidak jarang kami berangkat dan pulang kerja bersamaan.

"Tumben dia di sini berlama-lama. Ada apa?" responku kemudian.
Dengan raut malas dia bilang, "Itu..., katanya si Arif mau kawin lagi"
"O... Jadi, to?" timpalku dengan nada ringan.
"Kamu sudah tahu?" tanyanya keheranan.
"Sudah. Rencananya sudah agak lama kok" Sahutku sembari mengepulkan asap rokok.
"Farah sudah tanda tangani surat ijinnya beberapa bulan yang lalu" sambungku.
"Kamu sudah tahu?" tanyanya lagi.
"Aku kan sering pulang pergi kerja bareng sama Arif"
"Malahan surat itu aku yang ketikan"
"Hah..., gila kamu!" Hardiknya dengan nada marah. Seketika wajah istriku jadi bersungut-sungut mendengar penjelasanku.
"Dia minta tolong dan kebetulan aku kan yang akrab dengan laptop"
"Kamu nggak kasihan sama Farah?"
Sejenak aku terdiam sambil menghisap rokokku yang tinggal setengah batang.
"Aku sudah kasih masukan ini itu, tapi Arif tetap pada keputusannya. Menurutku sikap Farah sendiri terlalu lemah di depan suaminya. Dia memposisikan seperti pembantu di mata suaminya. Lihat saja kalau mereka bicara. Farah kaya bawahan dan Arif jadi atasannya" Jelasku.

"Kamu juga tahu masalahnya apa?"
"hmmm" sahutnya sembari mengangguk.
"Tapi menurutku itu karena mereka tidak bisa berkomunikasi yang terbuka dan seimbang. Jadi wajar, kalau Arif bisa mengambil keputusan tanpa perasaan dan Farah menyerah begitu saja" lanjutku lagi.

"Apa bukan karena usia mereka terpaut terlalu jauh?" timpalnya bertanya.Usia Farah dan Arif memang terpaut jauh. Saat ini Farah baru berusia 20 atau 21, sedangkan Arif sudah susiaku. Mereka menikah saat Farah masih SLTA, dan sekarang kuliahbaru semester V atau VI.
"Nggak juga. Ini soal mind set aja" jawabku.
"Konsep relasi suami-istri mereka memang kaya gitu. Suami adalah raja dan istri jadi dayang-dayangnya"

Beberapa saat kami terdiam. Kulihat beban batin belum sirna dari wajahnya. "Sudahlah..., itu kan urusan rumah tangga orang, kok kamu yang sedih?"

Dia hanya diam tak menanggapi. Segurit kekesalan kulihat semakin membebani wajahnya. Jelas sekali kulihat kulit wajahnya yang putih merona kemerahan, seperti menahan beban. "Sudahlah, itu urusan mereka" sahutku menenangkan.

"Memang Farah cerita sama kamu?"
Dia cuma mengangguk. Aku baru sadar bahwa rupanya masalah Farah jadi beban pikiran istriku. Dari cerita Arif aku sudah tahu, kalau untuk urusan ranjang Farah itu persis istriku. Arif merasa tidak puas dengan layanan istrinya yang tidak peka dan tidak mampu mengimbangi suami dalam urusan asmara. Meski mengalami nasib yang sama, tak sekalipun aku balik menceritakan masalahku padanya atau siapapun secara langsung.

Setelah diam terdiam sejenak dia bilang, "Aku cuma heran saja, kenapa gara-gara masalah sepele kaya gitu aja laki-laki sudah berfikir untuk menikah lagi"
"Sepele itu kan buat kamu yang nggak tahu rasanya"
"Berarti kamu juga seperti itu?"
"Seperti Arif? Ya enggalah..."
"Kamu kan tahu world view dan mind set aku dan dia beda"

"Mereka masih sangat konservatif, yang tidak mungkin menjalin komunikasi secara terbuka untuk urusan seksual. Akibatnya, pihak yang dominan dalam keluarga bisa mengambil keputusan sendiri, dengan mengabaikan pertimbangan perasaan. Sementara pihak yang inferior hanya bisa mengalah dan pasrah, serta memberikan pembenar atas nama keyakinan. Padahal keterbukaanku pada kamu saja tidak secara signifikan menyelesaikan masalah yang sama, kan?"

Dia hanya diam tersipu mendengar penjelasanku. Secercah cairan bening mengembang di pelupuk matanya, tapi wajah cantiknya kian berseri menahan haru. Tiba-tiba saja tangannya meraih tanganku dan menggenggamnya erat-erat. "Kamu nggak akan kaya dia, kan?" tanyanya mengiba.

Aku hanya terdiam memandanginya, lalu kubilang, "Buat aku, poligami itu menyelesaikan masalah dengan masalah. Itu mungkin hanya menyelesaikan satu masalah, tapi mengundang lebih banyak masalah lagi, karena buatku menikah adalah menjemput masalah. Biasanya itu terjadi pada mereka yang tidak begitu dekat dengan anak-anaknya. Mereka tak perlu berfikir bagaimana perasaan anak-anaknya dengan kehadiran ibu tiri, bahkan tidak peduli dengan perasaan istrinya sendiri. Sedangkan aku..." sejenak kalimatku terpenggal untuk menyulut sebatang rokok lagi.

"Aku gak bisa membayangkan bagaimana perasaan anak-anakku saat sudah besar nanti. Mereka hidup di jaman yang keadaannya mungkin sudah jauh berbeda dari masa kita saat ini, mendapati dirinya masih seperti manusia tempo doeloe dengan kehadiran ibu dan adik tiri. Nggak lucu, ah..." paparku sembari tergelak.

Kulihat rona wajahnya kian berbinar mendengar penjelasanku. "Aku tahu belum bisa jadi perempuan seperti yang kamu harapkan. Aku nggak tahu kenapa?" sahutnya sembari merengkuhku.

"Nggak apa-apa, sayang. Buatku kamu dan keluarga ini adalah yang terbaik yang kumiliki"
"Tapi kamu nggak puas sama aku"
"Nggak masalah. Aku juga tidak menuntutmu seperti ini dan itu"
"Terus kamu gimana?"
"Apanya?" tanyaku berlagak pilon.
"Ih... itunya..." sergahnya sembari mencubit lenganku.

"Sudah hampir 10 tahun, dan kurasa aku bisa mengatasinya"
"Gimana? Aku kan cuma bisa segitu"
"Ya..., kurasa seks tidak hanya bisa disalurkan lewat ML aja"
"Gimana?"
"Ya, aku kan dah biasa selingkuh"
"Ih... ngawur. Orang ditanya baik-baik kok"

"Ya, aku bisa salurkan lewat self-service, chatting, nonton BF, dan sesekali dengan kamu pas lagi mood"
"Ntar keterusan lagi"
"Ya enggaklah... You know, aku sangat rasional dan tahu yang mesti kuprioritaskan"
Kebetulan istriku kurang peka pada urusanku. Dia tak pernah berusaha cari tahu yang aku lakukan semalaman di depan laptop. Mau sekedar browsing, chatting, swinging, dia tak peduli. Yang penting aku selalu pulang, dan ada saat dia membutuhkan aja. Aku juga berusaha tidak membuatnya bertambah masalah dengan mengeluh dan menuntut ini dan itu.

"Memang kamu bisa puas seperti itu?"
"Tentu saja tidak. Tapi kan lumayan bisa sublimasikan beban perasaan"
"Atau sesekali selingkuh juga boleh"
"Ih... ngaco lagi" sergahnya sembari kencubit pinggangku.

Sejurus kemudia aku melanjutkan. "Buat aku lebih baik selingkuh tanpa sepengetahuan kamu dari pada poligami"
"Dosa kamu!"
"Habis gimana? Lebih baik aku berdosa sama Tuhan dan berdosa karena berdusta sama kamu, dari pada bikin kamu sedih dan cemburu setiap hari karena lihat istri mudaku. Ha... ha.. ha..."
"Sialan..." sergahnya sembari merengkuhku sembari berusaha mencubitiku.

Setelah tenang sejenak aku kembali melanjutkan. "Intinya, aku berani menanggung resiko apa saja demi harmoni keluarga kita. Tuhan pasti kebangeten kalau menyiksa aku. Di dunia saja sudah tersiksa karena nahan-nahan kaya gini, masa tega sih nyiksa orang di alam sana" jelasku sembari berkelakar.

"Eh..., ngomong-ngomong ada acara ngga malam ini? Sudah libur sebulan lebih, nih..." Rayuku mengalihkan pembicaraan. Biasanya saat-saat seperti kan hampir selalu berending ML.
"Nggak sekaranglah..." sahutnya.
"Lho, kenapa?"
"Males, ngantuk banget, capek. Seharian nggak istirahat. Dah ya, aku tidur dulu" jawabnya sembari meluncur ke kamar tidur.
Ya... ?????

Kamis, 05 Maret 2009

INGIN SELALU KERAMAS

Aku adalah pelanggan setia toko mbak Nur dan mas Yanto. Setiap kali persediaan rokokku habis, entah pagi, siang, sore, atau malam hari, aku pasti meluncur ke sana. Kebetulan hanya toko mereka yang jual rokok yang paling akrab denganku.

Sejak menikah aku memang jadi perokok berat. Padahal sebelumnya termasuk kelompok anti rokok. Mungkin kalau MUI haramkan rokok sebelum aku menikah, aku pasti jadi pendukung utamanya, tapi tidak kali ini. Karena fatwanya terlambat, ya tentu saja aku jadi penentang terberatnya.

Rokok boleh haram buat orang lain, tapi tidak buatku. Rokok telah terlanjur jadi sahabat setiaku, yang paling tahu perasaanku, yang selalu setia membelai relung dadaku, hatiku, perasaanku. Dalam sehari minimal aku perlu 2 bungkus hingga 4 bungkus. Boros memang, tidak sehat memang, tapi sulit sekali membayangkan hidup tanpa rokok.

Setiap kali ke toko mereka kadang aku hanya ketemu mbak Nur atau mas Yanto saja, tapi tidak jarang aku ketemu keduanya di tokonya yang tidak terbilang besar. Sebenarnya sih tidak ada yang istimewa dari keduanya ataupun tokonya. Mereka hanya pasangan suami-istri yang kira2 berusia 45 - 50 tahunan, dengan usaha bertani dan membuka toko kelontong kecil-kecilan.

Aku selalu melihat mereka begitu riang mengelola kios kecilnya bersama-sama. Sepertinya keluarga pas-pasan itu begitu harmonis. Anak-anaknya yang sudah beranjak remaja tampak jarang membantu mereka di toko, tapi mas Yanto tak segan2 membantu istrinya dengan suka rela, mulai dari kulakan bensin, melayani pembeli hingga bersih-bersih toko.

Yang aku heran, hampir setiap kali ke tokonya aku selalu mendapati mereka kelihatan habis keramas. Rambut keduanya basah atau kalaupun kering kalihatan kalau habis keramas. Tidak peduli ketemu pagi, siang, sore atau malam hari, aku selalu melihat mereka seperti habis "mandi besar".

Sebagai orang dewasa tentu saja aku berfikir, apakah yang kulihat itu karena mereka habis ML? Sebegitu seringkah? Pagi, sore, siang, malam? Apakah itu yang membuat mereka kelihatan harmonis? Bagaimana mereka bisa masih sebegitu mesra saat anak-anaknya sudah beranjak dewasa?
Saat kebetulan mampir ke tokonya bersama istriku, aku menggoda keduanya. "Wah... ini nggak pagi, nggak siang, nggak malam, keramas terus... Hayoo... habis ngapain" godaku.
Dengan tergelak mereka menimpali. "Ngapain lagi, masa nggak tahu?"

Rupanya keduanya paham pada sindiranku, dan seolah membenarkan apa yang jadi dugaanku selama ini.
"Ya pasti tahulah.... Kita juga ikut senang. Itu artinya harmonis" sahutku.
"Ya hidup mau apa lagi kalau nggak dinikmati, ya nggak, bu?" sahut mbak Nur sembari tertawa. Istriku hanya tersenyum kikuk.
"Kalau dinikmati sekarang kapan lagi, ya pak?" timpal suaminya.
Kami hanya tertawa tanpa sempat mengiyakan. Dalam hati aku membenarkan. Kita hanya hidup berapa tahun. Bahkan kupikir mestinya memang tidak ada waktu untuk menunggu dan menunggu menikmati hari-hari itu. Cuma persoalannya jalan hidup orang memang tidak sama.

"Sampeyan malah lebih enak, bu. Masih mudah, lebih sehat, dan punya segalanya" timpal istrinya kemudian.
"Punya apa? Sama saja. Yang penting cukup dan pada rukun aja, kan?" sahut istriku.
"Lho, kalau kita kan cuma hidup pas-pasan. Yang bisa dinikmati cuma itu, ya nikmati aja" timpal suaminya sembari disambut gelak tawa.

Sebelumnya aku memang sering cerita sama istri saol mbak Nur dan mas Yanto yang selalu keramas. Dia tidak percaya kalau itu karena mereka sering ML. Sampai di rumah aku bilang sama istriku. "Tuh... bener, kan kalau mereka memang sering keramas?"
"Alah..., kamu itu memang sembarangan aja kalau ngomong sama orang" sahutnya sengit.
"Tapi bener, kan?"
Dia hanya dia saja, lalu aku bilang padanya "Terus terang aku iri pada mereka. Mereka begitu menikmati kehidupan suami-istri, terlepas keadaan ekonominya seperti apa" Dia hanya tersenyum kecut dan
berusaha tidak begitu merespon.

Istriku memang tidak pernah berubah. Dia tetap seperti sebelumnya, dingin, kaku, dan gak interest untuk urusan yang satu itu, tanpa sedikitpun berubah. Hayalanku saja yang maksain aku bikin happy ending dengan happy moment semu, sekedar untuk menghibur diri. Demi nama baik , harmoni, dan anak-anak, cuma kesibukan, rokok, dan swalayan aja yang tetap jadi pelarian paling amanku
hingga detik ini.

Sering kali aku sudah patah arang, aku menyerah dan tak percaya perubahan itu kan terjadi. Aku percaya kata para ahli, kalau es kutub utara dan selatan mulai mencair karena pemanasan global, tapi aku tak percaya yang ini bisa mencair seabad lagi. Kalau yang beku air memang bisa cair, tapi kalau batu cuma bisa pecah aja...

Meski begitu, kadang aku berusaha sesekali. Kali ini akupun mencoba menggoda, "Ma, aku kok jadi pengen keramas, to"
"Ya sudah, sana. Sampo, sabun semua ada kok" sahutnya sembari nyelonong pergi.
"Nah, lho...????????"

Akupun cuma bisa bengong. Keramas aja? Ampun.... Maksudku kan bukan cuma keramas.... tapi sebelum keramas pengennya ya kaya mbak Nur dan mas Yanto itu.

Dasar nasib... nasib...

Senin, 16 Februari 2009

SURAT CINTA BUAT MAMA LAGI


Papa tidak tahu bagaimana harus bicara pada mama. Papa tahu, mama tidak pernah tertarik untuk membicarakan masalah ini. Setiap papa mencoba bicara, mama selalu menghindar, mengalihkan, menyangkal dengan berbagai alibi, tersinggung dan sering kali naik darah.
Kadang papa berfikir, mungkin seharusnya papa bicara sama orang lain saja, bukan sama mama.  Sebenarnya papa pesimis mama mau merespon secara positif, tapi papa ingin mencoba sekali lagi bicara, siapa tahu mama bersedia berbagi dan syukur-syukur berubah.
Terus terang, papa sangat tertekan dengan pola hidup dan kehidupan asmara kita selama ini.
PERTAMA: Sikap mama selalu penuh ketegangan yang membuat hidup kita terasa penuh tekanan. 
Papa menyaksikan mama selalu menyambut pagi dengan wajah tegang dan keluh kesah. Setelah itu, dengan wajah tegang pula buru-buru ke sekolah.
Sepanjang hari mama mondar-mandir seperti tak sabar, tak puas melihat kinerja semua pegawai. Sesekali mama keluar masuk rumah, melakukan ini dan itu dengan wajah tegang.
Sore hari, mama pulang ke rumah dalam keadaan kelelahan. Praktis hingga malam hari papa hanya melihat wajah cantik mama ber-make up kelelahan, tampak lusuh tanpa daya.
Wajah cantik dan tubuh molek yang sangat papa kagumi itu tergolek lemas tanpa daya, tanpa gairah. Itupun sering masih ditambah sikap BT kalau anak-anak kita kadang rewel.
Di mataku, mama adalah wanita tercantik dengan tubuh paling menggoda. Tapi gairahku selalu sirna melihat tubuh molek itu seolah tanpa jiwa. Ketertarikanku, hasratku dengan mudah pudar oleh sikap dingin yang seakan tak menyimpan gairah untuk bercinta dan menikmati hidup.
Papa tahu, mama merasa tidak ada yang salah dengan semua itu, tapi tidak demikian buat papa. Papa ingin hidup kita lebih mengasyikkan, penuh semangat, penuh gairah dan semua terasa indah.
KEDUA: Papa kian tidak nyaman dengan hubungan kita sebagai suami-istri yang semakin hari terasa kian tidak harmonis.
Papa sudah sering mengatakannya, tapi tidak pernah direspon mama, tetap saja tidak ada yang berubah. Papa merasa hubungan kita kian hambar dan tak bermakna.
Sudah sekitar 3 tahun kita pisah ranjang di usia pernikahan yang seharusnya memasuki masa-masa paling hangat. Kita kian jarang bercinta. Belum tentu seminggu, bahkan sebulan sekali kita bercinta, bahkan sekedar menghabiskan bercengkerama berdua.
Sepertinya mama menganggap kita masih baik-baik saja. Mama sepertinya merasa telah melayani kebutuhan papa lebih dari cukup. Mama tidak mau tahu bahwa papa merasa sebaliknya. Mama sama sekali tidak menganggap kita sedang bermasalah, apalagi berusaha memperbaikinya.
Buat papa ini sangat menyedihkan dan menyiksa. Rasanya seperti menikahi nenek cantik yang sudah menopouse, yang tak merasa butuh bercinta, yang hanya butuh dibantu dan ditemani.
Yang perlu mama tahu, punya 4 orang anak bukan ukuran bahwa kebutuhan sexual tercukupi. Agar mama hamil, kita hanya perlu satu kali hubungan sex saja. Sedang untuk memenuhi kebutuhan batin, yang kita lakukan selama ini jauh dari mencukupi.
Papa masih terlalu sehat untuk jalani kehidupan seperti ini. Papa haus kehangatan wanita dan menikmati hidup seperti pasangan seusia kita.
KETIGA: Bertahun-tahun papa mencoba mengerti kondisi mama. Papa berusaha menyukuri keadaan mama sebagai wanita istimewa, berbeda dari perempuan kebanyakan.
Mama adalah wanita yang “terlalu baik”, yang tidak mudah tergoda oleh hasrat sex. Mama “terlalu bersih”, sampai-sampai tidak memiliki fantasi romantis dalam bercinta yang mampu mewarnai kehidupan sexual kita.
Sebenarnya mama wanita normal, tapi hasrat, gairah dan sensitivitas mama telah dimatikan oleh pola pikir yang menganggap sex sebagai sesuatu yang memalukan, kurang penting dan bisa diabaikan. Mama bahkan kelihatan risih untuk sekedar membicarakannya.
Akibatnya, mama terlalu dingin dalam bercinta. Kehidupan sexual kita jadi sering terasa hambar, sering mengecewakan, kurang mengasyikkan, dan terlalu jarang.
Mama kehilangan sensitvitas bercinta, tidak mudah terangsang, tidak tanggap pada ajakan bercinta, dan hampir-hampir tidak pernah mengalami beratnya menahan hasrat yang menggebu.
Selalu butuh energi luar biasa untuk membuat mama siap bercinta. Satu-satunya saat di mana mama bergairah dan siap bercinta hanyalah saat mahkota mama dikulum papa.
Mama terlalu enggan untuk memahami kebutuhan papa sebagai laki-laki. Meski mama tahu papa sering bilang tidak puas, tapi mama seperti tidak peduli. Mama seperti sama sekali tidak bisa merasakan seperti apa dan seberapa berat apa beban batin yang papa alami. Mama tak pernah kelihatan menyesal atau merasa bersalah karena menolak ajakan bercinta.
Mama belum punya empati, hingga tidak bisa merasakan betapa berat rasanya menahan hasrat. Mama tidak tahu kan seberapa sering, kapan saja, di mana saja dan bagaimana saja cara bercinta yang papa butuhkan?
Mama kelihatan belum merasa butuh untuk memuaskan diri mama sendiri, apalagi memuaskan papa. Mama kelihatan belum benar-benar menikmati dan menganggap bercinta sebagai kebutuhan. Makanya, mama tidak pernah berinisiatif mengajak papa bercinta karena keinginan mama sendiri.
Sikap mama setiap bercinta masih kurang mengasyikkan, kaku, tidak luwes, seperti baru pertama kali melakukannya. Selain itu, selalu ada ribuan alasan, aturan, dan hal-hal yang mama khawatirkan setiap kali bercinta.
Seperti sejak awal menikah dulu. Mama biasa enggan bercinta hanya karena malu kelihatan habis keramas, ada banyak orang, korden terbuka dan sebagainya. Rasa malu, kuatir ini dan itu, serta berbagai hal terlalu mudah mengalahkan kebutuhan untuk bercinta.
Mama memang selalu bilang siap bercinta, tapi kenyataannya wajah mama yang kusut, ngantuk dan tidak bergairah itu sama sekali tidak mendukung yang mama ucapkan. Mama masih dengan mudah menolak, mendiamkan, bahkan menganggap aneh ajakan papa untuk bercinta.
Papa sering mencoba menggoda mama, tapi tidak ada respon berarti. Sepertinya yang papa goda cuma tubuh mama, sedangkan hati dan pikiran mama entah ada di mana.
Yang paling menjengkelkan, mama terlalu membatasi saat bercinta dengan waktu, tempat, keadaan dan aturan. Seolah mama tidak peka, tidak sadar bahwa sikap itu sangat mengecewakan dan membunuh gairah.
Mama sering bilang, “Cepetan, keburu ngantuk”, “jangan sekarang”, “jangan di sini”, “ini bukan bolliwood”. Mama seperti tidak tahu, bahwa itu artinya mama tidak membutuhkan. Kalaupun mama mau, mama hanya melayani papa, padahal papa tidak butuh pelayan. Papa butuh seseorang yang membutuhkan papa.
KEEMPAT:  Sejak menikah papa merasa kesulitan bicara dengan mama dari hati ke hati tentang masalah pribadi semacam ini.
Mama selalu bersikap reaktif setiap kali menanggapi pembicaraan. Mama biasanya langsung menolak, menentang balik apa yang papa bicarakan atau minimal diam saja. Ini membuat papa sering merasa kurang nyaman kalau bicara dengan mama.
Dengan sangat terpaksa papa sering memilih bicara dengan orang lain yang mau mendengar dan mengerti keluhan papa. Untung saja, sejauh ini belum terjadi apa-apa antara papa dan mereka.
Sering pula terbersit di pikiran papa untuk menyalurkan hasrat di luar sana, tapi sampai hari ini secara mental papa belum siap melakukannya. Kalau sudah benar-benar tak tahan, papa memilih masturbasi, sebuah kebiasaan yang justeru sering papa lakukan sejak menikah.
Tentu bukan ini yang papa inginkan. Papa ingin mama, bukan orang lain, bukan ilusi papa sendiri. Tapi kalau mama memang tak mungkin berubah, sepertinya ini satu-satunya pilihan.
KELIMA: Setelah menikah sekian lama, papa ingin kita bisa memperbaiki pola hidup dan kehidupan asmara kita selama ini.
Pertama, papa ingin wajah anggun mama tidak diselubungi dengan ketegangan demi ketegangan. Papa ingin melihat mama lebih rilex, penuh gairah dan menikmati hidup.
Papa tidak ingin melihat wajah kusut dan kelelahan itu. Papa tidak ingin berada di dekat tubuh indah tanpa jiwa.
Kedua, papa ingin mama memahami betapa selama ini papa merasa tersiksa oleh hasrat yang lebih banyak tertahan.
Papa ingin mama bersedia membicarakan dari hati ke hati, belajar memahami dan menerima kenyataan bahwa kebutuhan laki-laki seperti papa tidak seperti yang mama pikirkan.
Yang mama berikan pada papa selama ini masih jauh dari cukup. Gairah papa muncul sewaktu-waktu, sejak bangun tidur hingga tertidur kembali.
Papa selalu merasa sangat tertekan, suntuk, dan pikiran terasa buntu setiap kali hasrat itu muncul dan mama tak berminat menyapanya. Papa merasa sangat kecewa dan menderita setiap kali mama menolak dan tidak mempedulikannya.
Papa ingin bisa bercinta dengan mama setiap saat, tanpa batasan waktu, tempat atau keadaan. Bahkan saat mama menstruasi, papa berharap mama bisa bantu menyalurkan hasrat papa dengan semua cara yang mama bisa.
Papa tahu, tak mudah buat mama untuk berubah, tapi papa yakin mama bisa, mama cuma tidak biasa, dan belum bisa menganggapnya penting. Papa yakin mama tak keberatan untuk bicara, dan kita perbaiki kehidupan kita bersama-sama.