Sabtu, 07 Februari 2015
SEKSUALITAS WANITA SEBELUM DAN SETELAH MENIKAH
1. Membutuhkan Seks
2. Imaginasi Seks
3.
Kamis, 06 November 2014
KARMA CINTA
Sejak kecil aku termasuk anak penurut. Prestasiku di sekolah juga cukup menonjol, dan aku juga dianugerahi bakat seni yang lumayan sehingga sering menjuarai lomba nyanyi, nembang Jawa, dan seni baca al-Qur'an hingga tingkat kabupaten. Meski bakatku kurang tersalurkan secara maksimal, tetapi sudah cukup membuatku lumayan dikenal hingga saat aku kuliah.
Sebagai anak normal, tentu saja aku pernah tertarik pada cewek. Aku pernah menyukai beberapa cewek sejak SMP, tetapi hanya berhenti dalam hati. Penyebabnya hanya karena aku tidak percaya diri. Aku terlalu rendah diri terutama di hadapan cewek yang aku sukai.
Aku baru menemukan kepercayaan diri setelah kuliah beberapa semester. Pandanganku berubah drastis setelah cewek-cewek yang pernah aku sukai menyatakan pernah memiliki perasaan yang sama denganku. Aku baru sadar, cowok sepertiku ternyata cukup menarik di mata banyak cewek di sekitarku.
Sejak saat itulah aku mulai berani memacari seorang cewek cantik dan terbilang sangat muda dibanding usiaku.Pacaran pertama kali itu rupanya bukan pengalaman yang indah buatku. Padatnya kesibukanku saat itu membuat aku terganggu oleh kehadiran gadis pujaanku.
Aku belum siap mengorbankan terlalu banyak waktuku untuk memberi perhatian pada kekasihku. Apalagi sejak semester 5 aku sudah sangat resah memikirkan masa depanku. Hari-hariku terlanjur dipenuhi beribu target agar dalam beberapa tahun ke depan berhasil mandiri dan memiliki pekerjaan yang membanggakan orang tuaku.
Dengan terpaksa, aku relakan cewek cantik itu lepas dari tanganku. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk fokus meraih impianku. Meski ada perasaan sepi, sedih dan menyesal melepas kekasihku, aku benar-benar tak mau terganggu urusan asmara sebelum kuraih mimpiku. Kupastikan cinta sejati itu hanya boleh ada setelah pernikahan.
Sejak saat itu aku begitu mudah dekat dengan cewek-cewek lain. Aku sadar benar kelebihanku dan daya tarikku saat itu. Aku bisa membuat cewek membukakan hatinya untukku hanya dengan beberapa kata saja.
Masalahnya, aku hanya melakukan itu untuk mengisi rasa sepiku. Aku pasti mundur teratur setiap kali cewek mengajak hubungan lebih serius, sebab hal itu melanggar prinsipku. Aku tak akan membawa cewek ke hadapan orang tuaku, selama aku belum mampu mandiri dan memiliki status yang membanggakan orang tuaku.
Entah berapa gadis menelan kekecewaan padaku. Ada yang diam-diam terluka, dan tak sedikit pula yang memaki dan menumpahkan sumpah serapah padaku. Aku tak mau korbankan masa depanku untuk urusan yang tak penting buatku.
Aku baru menanggapi keseriusan cewek saat impian yang kukejar terasa begitu dekat di depan mataku. Untuk pertama kalinya aku datang ke rumah cewek, dan ternyata ayahnya tidak setuju.
Cewek itu masih berharap aku berusaha untuk meraih restu, tetapi aku tidak mau. Adalah pantangan besar bagiku bila harus bersitegang untuk urusan asmara. Bagiku, menikah adalah menjemput masalah, dan aku tak mau memulainya dari masalah.
Aku memilih fokus pada duniaku, dan memilih menghibur diri dengan menggoda cewek-cewek cantik di sekitarku. Aku tak tahu berapa nama baru yang harus kembali menelan rasa kecewa karenaku. Di samping fokus pada tujuan hidupku, aku sungguh menikmati masa mudaku sesukaku.
Aku baru berfikir keras soal calon pasangan hidupku saat adik kandungku sudah menemukan calon isteri. Aku memintanya menikah lebih dulu, tetapi dia bersikukuh tak akan melakukannya sebelum aku menikah lebih dulu.
Aku benar-benar bingung karena belum ada cewek satupun yang kupandang cocok di hatiku. Satu-satunya cewek yang ada di hatiku hanya teman lamaku yang pernah membuatku jatuh cinta pada pandang pertama saat awal kuliah dulu.
Meski aku sama sekali tak kenal dekat, dia satu-satunya wanita yang pernah membuatku benar-benar jatuh hati seumur hidupku. Rasa itu tak pernah terungkapkan karena waktu itu aku belum percaya diri, bahkan sedang krisis rendah diri akibat gagal masuk perguruan tinggi negeri.
Meski aku sama sekali tak kenal dekat, dia satu-satunya wanita yang pernah membuatku benar-benar jatuh hati seumur hidupku. Rasa itu tak pernah terungkapkan karena waktu itu aku belum percaya diri, bahkan sedang krisis rendah diri akibat gagal masuk perguruan tinggi negeri.
Masalahnya, dia saat itu sudah memiliki pacar, dan sudah empat tahun berjuang meraih restu orang tuanya. Aku tahu, dengan satu dua kata dia pasti mau denganku, tapi aku ragu bila harus merebut kekasih orang.
Kian besarnya desakan keluargaku, akhirnya kutelepon gadis itu, dan tak menunggu lama, dia menerimaku. Akhirnya dia melepaskan kekasihnya dan memilih menikah denganku.
Dengan hati berdebar aku sambut hari itu tiba untukku, tetapi entah mengapa aku merasakan beberapa sikap yang aneh pada istriku. Sejak bertemu di pelaminan, aku sama sekali tak melihat senyum di wajah istriku. Raut wajahnya tampak kaku, dan sama sekali tak bergeming saat para tamu, juru rias hingga juru foto memintanya tersenyum.
Usai resepsi pernikahan, dia tampak menjaga jarak dariku. Dia asyik dengan teman-teman kuliahnya tanpa memperkenalkan aku. Dia berganti pakaian sendiri di kamar lain dan seharian membiarkan aku sendiri termangu di kamar pengantin. Dia tak peduli meski meski semua orang menyuruhnya menemaniku.
Dia baru masuk kamar saat senja dan hanya duduk depan meja rias. Dengan raut tanpa ekspresi, tatap matanya begitu tegang seakan hati dan pikirannya menerawang entah ke mana. Saat aku mencium pipi kirinya, dia hanya diam tanpa ekspresi, seakan tak merasakan apa-apa.
Aku mencoba berfikir positif, mungkin ini karena kami memang baru kenal dekat. Apalagi saat malam tiba dia membiarkan aku mendekat dan merengkuh tubuhnya yang rabahan di sisi peraduan. Dia terlihat nyaman saat kami saling berbagi cerita tentang masa lalu yang pernah kami lewati.
---***---
Pernikahan membuat aku bersiap menyongsong fase baru dalam hidupku. Aku akan tepati janjiku sepanjang waktu, di mana lembar cinta sejatiku baru akan kuberikan pada seseorang hanya di mahligai pernikahanku.Dengan hati berdebar aku sambut hari itu tiba untukku, tetapi entah mengapa aku merasakan beberapa sikap yang aneh pada istriku. Sejak bertemu di pelaminan, aku sama sekali tak melihat senyum di wajah istriku. Raut wajahnya tampak kaku, dan sama sekali tak bergeming saat para tamu, juru rias hingga juru foto memintanya tersenyum.
Usai resepsi pernikahan, dia tampak menjaga jarak dariku. Dia asyik dengan teman-teman kuliahnya tanpa memperkenalkan aku. Dia berganti pakaian sendiri di kamar lain dan seharian membiarkan aku sendiri termangu di kamar pengantin. Dia tak peduli meski meski semua orang menyuruhnya menemaniku.
Dia baru masuk kamar saat senja dan hanya duduk depan meja rias. Dengan raut tanpa ekspresi, tatap matanya begitu tegang seakan hati dan pikirannya menerawang entah ke mana. Saat aku mencium pipi kirinya, dia hanya diam tanpa ekspresi, seakan tak merasakan apa-apa.
Aku mencoba berfikir positif, mungkin ini karena kami memang baru kenal dekat. Apalagi saat malam tiba dia membiarkan aku mendekat dan merengkuh tubuhnya yang rabahan di sisi peraduan. Dia terlihat nyaman saat kami saling berbagi cerita tentang masa lalu yang pernah kami lewati.
Sabtu, 18 Oktober 2014
ISTRIKU WANITA RAPUH YANG MUDAH DIRAYU
Suasana hati saat ini mengingatkanku pada awal
pernikahan. Saat itu, aku sangat kecewa setelah tahu istriku belum seutuhnya
lepas dari Zaenal. Istriku masih belum mampu melepaskan bayang-bayang Zaenal,
meski dia sudah berada dalam pelukanku.
Rasa kecewa itu begitu menggangguku, dan menjadi
ganjalan batin sepanjang pernikahanku. Aku menyesal memiliki istri yang masih
mencintai orang lain.
Penyesalanku berpuncak saat aku tahu istriku
ternyata sering mencuri-curi kesempatan untuk dekat kembali dengan Zaenal.
Pernikahanku benar-benar kehilangan arti karenanya. Aku merasa tak lebih dari
sekedar lelaki penganti buat istriku, sementara hatinya masih terikat dengan
seseorang di luar sana.
Perlahan aku berusaha menerima kenyataan itu.
Apalagi istriku berusaha menjaga jarak dari Zaenal dan mbak Umi yang selama
pacaran dengan Zaenal menjadi mak comblangnya. Mbak Umi juga yang selama
menikah selalu menghubungkan istriku dengan Zaenal.
Beberapa waktu berselang, istriku kembali tergoda
lelaki lain. Godaan dan sanjungan Asnan, teman kuliahnya, membuat istriku
begitu penasaran pada lelaki yang kembali dijumpai saat reuni kampus itu.
Istriku begitu berbunga-bungan dengan godaan dan
celoteh Asnan yang lucu dan memancing rasa penasaran. Aku ingat tingkah lucu
istriku saat sembunyi-sembunyi, dan dengan raut gelisah menanti SMS atau
telepon guru SMK swasta itu di Malang itu. Istriku selalu membawa handphone ke
manapun, bahkan saat tidur.
Istriku begitu shok saat sadar aku tahu semua yang
dia sembunyikan. Dia sadar telah membuatku kecewa untuk kedua kalinya, tapi aku
segera memastikan bahwa aku tak keberatan pada hubungan istriku dengan
Asnan.
Hingga beberapa minggu lalu istriku paling betah
chatting dengan Asnan hingga larut malam, apalagi saat aku tak di rumah. Meski
begitu aku senang sebab pertemanan istriku dengan Asnan dan teman-teman
kuliahnya membuat istriku makin terbuka dan agresif dalam bercinta.
Selain dengan Asnan, istriku kembali dekat dengan
Faizin teman SMA di Jombang. Beberapa kali Faizin mencoba menggoda istriku
dengan mengungkit masa lalu, tetapi awalnya kurang direspon istriku.
Perlahan tapi pasti Faizin berhasil memancing
istriku untuk berani mengungkapkan perasaannya. Aku sempat shok melihat istriku
berbagi perasaannya pada Faizin. Istriku mengakui memang menyukai Faizin hingga
saat ini, hanya saja dia belum terpikir untuk melangkah lebih jauh. Istriku sadar
benar, betapa hubungan yang lebih jauh dengan Faizin begitu dekat, hanya
tinggal masalah kemauan antara mereka berdua.
Saat aku tanyakan hubungannya dengan Faizin, kali
ini istriku berusaha terus terang. Dia bersikap bahwa yang dilakukan masih
dalam batas kewajaran. Dia Shock begitu menyadari bahwa pengakuannya justeru
membuka tabir rahasia hatinya selama ini.
Kini kusadari betapa istriku sebenarnya hanya wanita
rapuh untuk urusan hati. Meski hingga kini masih komitmen pada keluarga, tapi
dia rentan didera godaan, mudah kesepian, terbuai perhatian, pujian dan kata-kata
lelaki.
Aku tak lagi kecewa pada istriku, meski menyesal
juga memiliki istri seperti ini. Aku kasihan melihat istriku yang harus menjadi
korban kekolotan orang tuanya. Beratnya jalan cintanya dengan Zaenal di masa
lalu mungkin telah membuat jiwa istriku sangat rapuh dan mudah goyah. Wanita
itu bahkan terlalu polos untuk membedakan antara rayuan dan obrolan pertemanan.
Aku tahu,
beberapa waktu ke depan hal seperti itu akan terulang lagi, bahkan
sangat mungkin lebih jauh lagi. Istriku mudah terbuai lelaki yang memiliki
kesan di masa lalu atau berkepribadian matang dan terkesan baik. Meski jauh
dari harapan, aku terima istriku apa adanya dan akan menjaganya sebagai wanita
istimewa dalam kehidupanku.
Rabu, 15 Oktober 2014
KETIKA ISTRIKU SELINGKUH DENGAN FAIZIN
Tanpa rasa berdosa istriku bicara dengan Faizin tentang perasaan mereka yang sejak SMA tak pernah terungkapkan. Ternyata perasaan mereka sama. Perasaan itu masih sama saat ini, dan diam-diam mereka menikmati.
Istriku bilang pada Faizin, andai saja mereka mau dan bukan demi menjaga keutuhan keluarga, mereka bisa saja berhubungan lebih jauh. Mereka tahu itu sangat mungkin dilakukan.
Istriku menyadari betapa rapuh perasaannya di hadapan Faizin. Itu sebabnya istriku berharap mereka menghindar untuk bertemu berduaan, sebab istriku sangat tahu, sulit baginya menghindari godaan lelaki itu.
Kini aku mengerti mengapa selama ini istriku tak merasa perlu menjaga perasaanku. Ternyata aku hanya laki-laki yang kebetulan menjadi suami buat istriku. Kehadiranku sama sekali tak mengubah apapun di hatinya.
Mungkin istriku pada dasarnya memang tak bahagia dan faktanya dia memang bukan memilihku karena cinta. Kehadiranku tak cukup untuk memenuhi dahaga kasihnya. Jiwa istriku begitu hampa sehingga begitu mudah terbuai rasa. Kerinduan terpendamnya pada cinta sejati membuatnya begitu mudah mengumbar perasaan pada lelaki lain.
Yaa.. Robb...
Kenyataan ini sangat menyakitkan. Mungkin aku bukan laki-laki yang baik, sehingga diamanahi istri seperti ini. Mungkin pula aku ditakdirkan menjadi laki-laki yang berjiwa terlalu kuat, sehingga dianugerahi beban batin yang begitu berat.
Langganan:
Postingan (Atom)
