Sabtu, 03 Mei 2014

SEDERHANA SAJA

Ya. Sebenarnya masalahnya sederhana saja.

Pertama, Kamu masih menyukainya, meski mungkin tak terlalu berharap kembali padanya. Perasaanmu yang dulu  itu masih ada, perasaan lebih dari teman biasa. Kamu menyukainya. Kamu menginginkannya. Kamu merasa nyaman bersamanya. Kamu menikmatinya.

Kedua, kamu sepenuhnya sadar, itu bukan hubungan biasa, berbeda dari teman biasa. Kamu sangat tahu akibat hubungan itu bisa membahayakan hubungan kita, tapi kamu tetap melakukannya. Itu sebabnya kamu mencuri-curi kesempatan dan berusaha menyembunyikannya dariku.

Jadi, masalahnya kamu hanya tak bisa mengakuinya. Itu saja. Kalaupun ada yang berbeda dari dik Anik, itu hanya soal perbedaan gaya saja.

PENGOBAT JIWA RAGA

Berhari2 kulalui dengan hampa
Jiwaku kehilangan daya
Tubuhku serasa tak lagi bertulang,
Lemah, lunglai, mati rasa.
Pikiranku berhenti befungsi
Serasa darah tak lagi mengalir
Pandanganku muram durjana
Mata serasa berselimut jelaga.
Dunia serasa di penghujing jalannya
Rasaku terbenam di jurang menganga
Di kegelapan sunyi tanpa suara
Hidupku serasa berhenti tanpa asa
Tanpa aku tahu kenapa?

Aku mengira
Aku hanya sedang tak sehat saja.
Tapi....
Sejak suara khasmu menyapa,
Tiba2 mendung pembebal ubun2ku sirna
Ya, hilang begitu saja.
Jiwa ragaku kembali perkasa

Celotehmu yang jenaka,
Membuatku tak henti tertawa
Sikap polosmu yang menggoda,
Membuatku gemas tak terkira
Perhatian dan sanjungan di balik canda
Bumbungkan hatiku ke atas nirwana

Suaramu membuatku betah berlama2
Nyamankan berbagi dan terus bersama
Serasa tak ingin mengakhirinya.
Meski harus sembunyi di balik rahasia.
Meski harus berpura2
Sebab kuharus hapus dengan segera
hingga bersih semua jejaknya
hingga seakan tak pernah ada.
Hingga seakan tak terjadi apa2
Demi petaka asmara tak lagi menyapa.

Duhai sahabat lama,
Kau telah membuatku begitu berharga
Serasa mandi berjuita cahaya,
Kau bangkitkan kembali gairah jiwa
Yang hampir kering layu merana.

Terima kasih untuk semua
Kau buat semua terasa berbeda.
Tanpa kutahu mengapa,
Gejala2 flu masih mendera
Tapi sejak kemarin tak lagi terasa

BERATNYA JUJUR PADA PASANGAN

Cerita Seorang Kawan
Menyenangkan sekali bisa berhubungan kembali dengan mantan pacar. Eh, sebenarnya bukan mantan sih…, soalnya kami sepakat tak akan pernah ada kata putus di antara kami. Aku senang kesepakatan itu dia tepati.

Senang rasanya bisa kembali berbagi kabar berita dengannya, berbagi cerita, berbagi canda tawa seperti dahulu kala, dan sesekali mendengar kembali bujuk-rayunya. Lega rasanya bisa menumpahkan kerinduan yang sekian lama tersimpan di dada. Bahagianya hatiku mendengar dia bilang masih suka padaku seperti saat dulu masih bersama, dan tak pernah berubah, meski dia telah bahagia dengan keluarganya.

Sejak kembali bisa bicara nyaman dengannya, aku menjadi selalu ingin kontak dia lagi dan lagi. Setiap kali memegang handphone, aku selalu tak sabar untuk segera menghubunginya.Aku merasa tak sabar menunggu balasan SMS darinya. Aku tahu kapan dia bisa dihubungi dengan bebas, diajak bertukar SMS silih berganti, atau telepon seolah tanpa henti. 

Bersamanya benar-benar menjadi penghibur duka, di tengah beribu beban dan masalah yang tak henti mendera. Sayangnya, pasangan resmiku ternyata mengetahui semua. Dia begitu kecewa karenanya.

Seketika aku tak bisa berkata-kata, saat dia mengatakan semuanya. Aku sadar telah melukai hatinya. Diam-diam aku memang bermain hati di belakangnya, tapi aku tak rela dia menganggapku telah mengkhianatinya.

Saat kesedihannya mulai mereda, aku berusaha memperbaiki semua. Aku berusaha keras meralatnya. Berulang kali kutegaskan padanya, bahwa aku hanya berteman saja. Aku harap dia menganggap semua itu hanya sebagai hal biasa. Kuharap dia tak lagi mempersoalkannya, karena aku merasa tak melakukan apa-apa.

Dia memang tidak murka, meski raut kekecewaan begitu jelas memenuhi hari-harinya. Beribu penjelasanku ternyata percuma, bahkan hanya menambah duka hatinya, membuat aku semakin tak berharga di matanya. Kata-kataku hanya angin lalu baginya, bahkan membuatnya kian tak percaya, dan sama sekali kehilangan rasa percaya.

Aku kehilangan jalan untuk kembali meyakinkannya. Tanpa kusadari, penjelasan-penjelasanku yang begitu banyak justeru menegaskan betapa aku hanya berdusta. Di matanya aku tak lebih dari pendusta yang berusaha menutupi dusta dengan dusta.

Kuakui, aku memang tak mampu memberi penjelasan masuk akal padanya. karena dia terlalu banyak tahu lebih dari yang aku duga. Meski begitu, aku tak pernah menyerah untuk membenarkan diriku. Sering kali aku balik menyerang dia, terutama masa lalunya, tapi hanya mempertegas kedunguanku di hadapannya. Dia justeru kian yakin, betapa aku hanya berusaha menutupi kesalahanku.

Aku tahu dia hanya butuh kejujuran dariku, tapi aku tak mungkin  memberikannya. Aku tak mau dia menganggapku telah mengkhianatinya. Aku lebih suka berharap dia akan mempercayai ocehan bodohku suatu hari nanti, meski sepertinya sia-sia. Aku tahu perasaannya padaku tak lagi sama. Baginya, kehadiranku tak lagi seberarti masa-masa sebelumnya. Rasa tanggung jawab saja yang membuatnya bertahan. Andai bukan karena buah hati yang terlalu berharga baginya, dia pasti memilih mengakhiri kisahku bersamanya. 

Sejauh ini dia baik-baik saja, tapi kuakui ada ruang hampa antara aku dan dia. Aku sadar dia hanya menempatkan aku sebagai teman di kehidupannya, bukan lagi sebagai kekasih. Sikapnya bahkan menegaskan betapa sebenarnya dia tak lagi membutuhkan aku meski tetap hidup bersama. Dia terlanjur memiliki keyakinan sendiri tentang aku. Dia memilih cara sendiri untuk menata hatinya di hadapanku, dan aku tak tahu bagaimana mengubahnya.

Kadang aku ingin memberikan kejujuran yang dia minta, tapi harga diriku terlalu berat melakukannya.

JANJI HATI

Sesungguhnya ada perasaan kecewa yg sangat dalam & tak pernah hilang, bahkan tak sedikitpun berkurang. Semua terasa sudah berakhir saat aku tahu betapa kamu masih begitu perhatian padanya, masih sangat nyaman bersamanya, tp hidup harus terus brjalan. Aku harus selalu tersenyum & bisa menikmati semua ini.

Kau akui atau tidak, rasa itu masih ada. Aku tahu hatimu masih menyimpan rasa untuknya. Dia masih begitu istimewa di hatimu. Kamu hanya tak bisa sepenuhnya jujur padaku, tapi sikap & tindakanmu tak mungkin berdusta padaku. Aku tahu betapa ngebetnya kamu. Aku tahu betapa girangnya kamu menanggapi setiap canda, tawa & bujuk rayu. Aku tahu semua isi pembicaraanmu. Kamu memang bermaksud menghibur rasamu. Kamu sengaja berbagi rindu, meski mungkin belum berfikir lebih jauh dari itu.

Kamu bukan tak tahu itu melukai hatiku. Kamu bukan tak tahu, itu bukan hubungan biasa buat kamu. Aku tahu bagaimana gelisahnya kamu mengindarkanhandphone kamu dariku. Aku tahu bagaimana kamu selalu begitu terburu2 menghapus sms pribadi itu. Kamu tak akan menyembunyikannya dariku bila tak berarti apa-apa buatmu. Kamu hanya tak bisa menyimpan perasaanmu. Itu sebabnya kamu begitu gigih mencuri2 kesempatan di belakangku, padahal kamu tahu bagaimana perasaanku setiap kali kamu berhubungan dengan lelaki itu. 

Kamu hanya enggan mengakuinya di hadapanku. Padahal keterbukaanmu pasti akan sedikit meredakan dukaku, membuat aku mengerti dan memahami, tapi aku tak lagi berharap apapun darimu. Aku tahu siapa kamu, tapi aku ingin kamu bahagia selama masih bersamaku. Aku sadar hidup bersamaku bukan keinginanmu. Aku tak ingin kamu kembali menderita setelah begitu lama tersiksa akibat ego orang tuamu. 

Di kehidupanku yang sekali ini, aku sendiri tak mau selamanya tersiksa, meski luka ini menganga selamanya. Aku harus temukan bahagia hatiku, meski bukan dari kamu. Aku akan selalu tersenyum untukmu & demi masa depan anak2ku.